Kesenian Topeng Bekasi

Dokbud Litbang :

Inilah Bhineka Tunggal Ika!

Walau hujan mengguyur bandung sejak sore, malam itu karpet pertunjukan tetap digelar di panggung teater terbuka di Taman Budaya Jawa Barat. Setelah peralatan gamelan siap, sinden mulai melantunkan lagu memberikan tanda pertunjukan akan dimulai. Bangku penonton yang masih sepi karena cuaca yang tidak mendukung lambat laun mulai ramai, orang-orang seakan terpanggil dengan nyanyian sinden. Pewarisan Seni Topeng Bekasi pun dimulai.

Kesenian topeng bekasi merupakan hasil akulturasi kebudayaan Bekasi yang mendekati betawi dengan kesenian Jawa Barat. Menurut Kamusd Besar Bahasa Indonesia, akulturasi (akul•tu•ra•si) adalah percampuran dua kebudayaan atau lebih yang saling bertemu dan saling mempengaruhi. Dalam penyajiannya, pada Sabtu (16/3) lalu, budaya bekasi atau betawi terasa kental, terutama saat dua orang pembawa acara (pengganti mc) menggunakan gaya berpantun dengan logat betawi. Namun, saat wawancara dengan pak Nomir (salah satu pemilik sanggar) selesai acara, ia menyanggah bahwa budaya Bekasi adalah betawi. Hasil akulturasi terlihat pada beberapa tarian yang beberapa gerakannya berasal dari Jawa Barat.

Mengapa “pewarisan”? di Taman Budaya ini memang sering digelar pertunjukan dengan tajuk pewarisan. Acara ini dbuat oleh beberapa sanggar kesenian yang baru saja selesai mengajarkan suatu seni tradisional, baik tari, musik, atau lainnya, pada satu generasi penerus di sanggar tersebut. Para penari dan pemusik terlihat masih muda. Hal ini bertujuan agar kesenian tersebut terus terjaga keberadaannya.

Acara dimulai dengan beberapa lagu dari Sinden, pemutaran video proses latihan di sanggar mereka, pembukaan oleh mc bergaya betawi seperti yang telah dijelaskan diatas, dan sambutan dari ketua sanggar dengan sebuah pantun. Tarian pertama yang dihadirkan adalah Tari Topeng Jegot. Tari ini dibawakan oleh dua orang, berpasangan, dengan menggunakan topeng. Setelah itu ada Topeng Gong. Tarian “centil” ini dibawakan oleh 5 orang penari perempuan dengan lagu “Kicir-Kicir”. Walau nama tarian tersebut Topeng Gong, para penari tidak mengenakan properti topeng. Setelah itu ada penampilan tari Kembang Amprok. Tari ini adalah tarian gagah, gerakannya banyak menyerupai gerakan bela diri, tapi tetap dibawakan oleh para penari perempuan juga. Rangkaian puncak adalah drama tari. Dengan pertunjukan bergaya komedi, mereka menghadirkan sebuah cerita sederhana dengan pesan moral yang kaya dan kental budaya. Rangkaian terakhir sekaligus penutupan tidak kalah menarik. Dua orang wanita menyanyi melantukan lagu tradisional.

“Bekasi kan, Jawa Barat juga” itulah ungkapan pak Nomir saat ditanya mengenai kesenian akulturasi ini. Percampuran dua budaya memang dapat menyatukan suatu kesenian yang indah. Itulah mengapa, walaupun Indonesia terdiri dari berbagai suku, persaudaraan tetap harus terjaga. Dengan kerjasama, Indonesia dapat membuat sebuah karya masterpiece yang tidak akan kalah dengan kesenian dari negara manapun.
[RP – div.Litbang]

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Kantunkeun Balesan

Surél anjeun moal diuar-uar. Eusianeun anu wajib ditawisan ku *