PEDULI PADA BUDAYA, HARGA MATI! Karinding Celempungan Harus Lestari

DSC_0110 copyPerkenalkan kami adalah tim dokumentasi budaya Lises Unpad. Pada Sabtu (19/12) lalu kami melakukan kegiatan dokumentasi budaya di daerah Sumedang, tepatnya di daerah Parakan Muncang. Disana, kami menggali informasi mengenai salah satu alat musik dari daerah Jawa Baratyaitu karinding dan celempungan. Apakah nama karinding dan celempungan terdengar asing bagi anda? Alat musik tradisional? Betul sekali, karinding merupakan salah satu alat musik tradisionalSunda yang telah ada sejak jaman dahulu, begitu pula dengan celempungan. Berbagai waditra bambu yang dimainkan bersama dengan celempung, disebut dengan celempungan, termasuk didalamnya karinding. Arti dari celempung itu sendiri dalam Bahasa Sunda disebut juga dengan “pirigan”.

Jika anda bertanya bagaimana asal usul dan sejarah dari karinding celempungan, tidak ada yang tahu persis jawabannya, begitu pula dengannarasumber kami yaitu bapak Enang Sugriwa yang lebih akrab dengan sapaan Abah Olot. Beliautidak bisa menemukan asal-usul atau sejarah karinding celempungan, dari mana asalnya atau siapa yang pertama membuatnya.Menurut Abah Olot, celempungan ini sudah ada sejak jaman penjajahan Belanda. Saat zaman penjajahan ini,untuk bermain karinding celempungan masyarakat harusmelakukannya secara sembunyi-sembunyi, jauh dari jangkauan para penjajah agar alat tersebut tidak dirampas. Hal itu menjadi salah satu alasan mengapa asal usul karinding celempungan ini tidak diketahui.

Pada jaman dulu, karinding celempungan ini biasa digunakan untuk mengusir hama yang ada di sawah ataupun di kebun, juga biasa dibunyikan disaat ada kejadian alam seperti gempa bumi atau gerhana.Karinding celempungan dipilih karena bahan dasarnya mudah didapatkan yaitu bambu.Bambu ini tanaman yang tumbuh subur di Jawa Barat, kita dapat menjumpainya di mana-mana, terutama di hutan atau kebun di daerah perkampungan.Meskipun demikian, membuat alat musik ini tidak semudah mendapatkan bahannya, ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam membuat alat musik karinding celempungan diantaranya adalah jenis bambu, usia bambu, hingga tingkat kekeringannya.

Ada beberapa jenis bambu yang biasa digunakan untuk membuat waditra dari karinding celempungan diantaranya adalah bambu yang berwarna hitam atau bambu “gombong”, bambu yang berukuran besar dan bambu “pitung”.Umur bambu pun harus di perhatikan dalam membuat alat musik ini, biasanya bambu yang dianggap sudah cukup baik untuk membuat karinding celempungansudah berumur 5 tahun. Bukan hanya itu, bambu yang mau dibuat celempungan terlebih dahulu harus dijemur langsung di bawah matahari selama satu tahun agar dapat menghasilkan suara yang bagus.

Tidak mudahnya membuat karinding celempungan ini tidak membuat Abah Olot berhenti membuat dan memainkannya, ketika ditanya alasan mengapa Beliau masih mau melestarikan karinding celempungan, beliau menjawab bahwa beliau bertekad untuk mengembangkan kembali alat musik tradisional ini.“Saya ingin berbagi ilmu kepada semua masyarakat karena jika kita mempunyai ilmu tapi tidak dikembangkan dan tidak dibagikan maka ilmu itu tidak bermanfaat” jawabnya dengan lantang. Alasan lain yang Abah Olot utarakan pada kami adalah bahwa Abah Olot diberi amanah oleh orang tuanya agar memperkenalkan kembali karinding dan celempungan ini.

Tekad untuk berbagi ilmu tersebut semakin kuat ketika Abah Olot membaca sebuah buku yang di dalamnya terdapat tulisan bahwa karinding dan celempungantermasuk kedalam salah satu alat musik yang hampir punah. Dengan tekad yang semakin kuat, Abah Olot mulai mengembangkan kembali karinding pada tahun 2004-2005.Dengan niat tulus dan usaha yang tak pernah berhenti hingga saat ini, akhirnya alat musik karinding telah kembali populer dan tidak dianggap hampir punah lagi.

Tentunya tidak mudah untuk memopulerkan kembali karinding dan celempungan di tengah masyarakat,namun tanpa diduga, Abah Olot menggunakan cara yang sangat sederhana.Abah Olot mengenalkan karinding celempungan kepada masyarakat dengan cara mulut ke mulut, lalu jika ada yang bertanya bagai mana cara memainkannya, Abah Olot akan dengan senang hati mengajari dan mempraktikannya langsung.Dengan cara tersebut, alat musik karinding dan celempungan ini mudah menyebar, dapat kita lihat sendiri saat ini tidak sedikit anak muda terutama yang ada di darah Sumedang dan Bandung telah mempunyai komunitas karinding dan celempungan. Hal tersebut tentunya merupakan bagian dari perjalanan Abah Olot yang berkeinginan luar biasa untuk menonjolkan kembali kesenian Sunda yang katanya hampir punah itu.

Sejak memperkenalkan kembali karinding dan celempungan, kini Abah Olot telah mendapatkan beberapa penghargaan dari usahanya membuka kembali jendela kesenian Sunda diantaranya adalah Piagam yang diberikan kepada abah olot dari Bupati Sumedang sebagai karya terbaik penghasil kerajinan bambu pada tahun 2008 dan juga Penghargaan yang didapatkan sebagai pencetak rekor muri penampilan karinding terbanyak di Bandung pada tahun 2009 yang berhasil membuat rekor dengan melibatkan peserta terbanyak untuk pergelaran music karinding yakni 370 orang. Selain itu banyak lagi penghargaan-penghargaan lain yang didapatkan oleh abah olot ini yang tidak bisa disebutkan satu persatu.

Pada mulanya Abah Olot terlebih dahulu mengenalkan kembali karinding, lalu seiring dengan semakin terkenalnya karinding, Abah Olot mulaimengolaborasikannya dengan celempungan. Menurut Abah Olot, celempungan memberi warna lain dalam permainan karinding, sehingga permainan karinding tidak monoton.Abah Olot tidak hanya meneruskan karinding celempungan dari orang tuanya saja, namun juga mengembangkannya. Dengan kreativitas dan inovasinya, kini karinding celempungan bisa dimainkan dengan nada pentatonis dan diatonis, artinya karinding celempungan dapat dikolaborasikan tidak hanya dengan alat musik tradisional saja, tapi bisa dikolaborasikan dengan alat musik moderen. Karinding celempungan tidak hanya bisa digunakan untuk memainkan lagu-lagu berbahasa Sunda, namun juga lagu yang berbahasa Indonesia bahkan sampai lagu yang berbahasa Inggris.Tidak hanya itu, karinding celempungan dapat dikolaborasikan dengan jenis musik underground yang kini banyak digandrungi anak muda.

Dengan tekad yang kuat dan usaha yang tak kenal henti, Abah Olot berharap karinding celempungan dapat tetap lestari. Dan kami, akan terus mendukung semua upaya pelestarian tersebut dengan menangkapnya melalu lensa kamera dan goresan tinta serta menyebarkannya kepada dunia. Ini adalah bukti nyata kepedulian kami pada budaya sendiri, karena menurut kami, peduli pada budaya adalah harga mati.

 

Penulis: Siti Aminah

Editor: Reinatya Ghaida Hardisty