Dokumentasi Budaya Lises Unpad : Angklung Landung Khas Tasikmalaya

DCIM103GOPROGOPR6112.

Dalam rangka penelitian dan pengembangan budaya Sunda , Lises Unpad (Lingkung Seni Sunda Universitas Padjadjaran ) kembali melaksanakan kegiatan dokumentasi budaya Angklung Landung, pada hari Sabtu (10/04/2016) di daerah Tasikmalaya tepatnya di bawah kaki Gunung Galunggung, yang bertepatan dengan acara Festival Pesona Galunggung.

Di daerah Tasikmalaya terdapat salah satu alat musik yang unik,biasa di mainkan dalam acara pembukaan atau helaran, khitanan, pernikahan dan upacara panen raya. Alat musik unik tersebut adalah Angklung Landung. Pembukaan Festival Pesona Galunggung dibuka oleh helaran dengan memainkan musik Angklung Landung, Dog-dog, dan Seni Singalaga. Angklung Landung merupakan alat musik modifikasi dari Angklung Buncis dan Angklung Badud. Angklung Landung pertama kali diciptakan pada tahun 2000-an oleh Bapak Apep. Yang menarik dari Angklung Landung yaitu dari segi ukuran yang tentunya beda dari yang angklung biasanya. Angklung ini berukuran 2.75 m yang larasnya menggunakan laras pentatonic dengan jumlah bingkai 3, sedangkan pada angklung biasanya jumlah bingkai hanya 2. Angklung Landung salah satu alat musik asli daerah Tasikmalaya yang diciptakan atau dimodifikasi oleh Bapak Apep. “Membuat angklung yang berbeda tujuannya supaya bisa membedakan antara angklung ciptaannya dengan angklung yang lainnya terutama dalam acara festival di beberapa kegiatan yang di tandai dengan modifikasi angklung yang tinggi di hias dengan rumbe-rumbe warna warni yang terdiri dari warna merah yang berani menciptakan angklung landung, warna biru yang berarti air sebagai sumber kehidupan, warna kuning berarti kasugihan atau kemakmuran seperti panen raya, warna hijau yang berarti alam”, ujar Bapak Apep

Ternyata dengan diciptakannya angklung landung menjadi salah satu nilai jual dan mendapat perhatian lebih dari masyarakat terutama kalangan anak muda, biasanya anak muda membawakan angklung yang berukuran kecil cenderung tidak percaya diri, tetapi setelah menggunakan angklung landung anak muda lebih percaya diri ketika memainkannya. Selain angklung ada juga yang mengiringinya yaitu tarian helaran yang di tarikan oleh para pemain angklung dengan cara berputar yang mengandung makna, jika kita pergi merantau maka kita harus ingat dengan tempat asal kita