Oray Liong ala Jatinangor

 

                Dalam rangka melaksanakan tugas penelitian dan pengembangan budaya Sunda, LIses Unpad (Lingkung Seni Sunda Universitas Padjadjaran) sekali lagi melakukan kegiatan dokumentasi budaya Kesenian Oray Liong, pada Sabtu (23/04/2016) di kecamatan Jatinangor, Sumedang, bertepatan dengan perayaan ulang tahun Jatinangor yang ke 16.

                Ulang tahun Jatinangor yang ke 16, sebenarnya Jatuh pada hari Kamis, 21 April 2016 namun perayaan baru dilaksanakan pada hari Sabtu. Perayaan dilakukan dengan diadakannya arak-arakan kebudayaan Sunda khususnya budaya yang sudah lama dan lahir dari tanah Sumedang. Beberapa budaya tersebut diantaranya adalah Reak, Kukudaan, dan Oray Liong. Diantara ketiga kesenian tersebut, ada satu yang menarik dan mengundang banyak pertanyaan, yaitu kesenian Oray Liong. Menurut keterangan bapak Robi (salah satu pemain Oray Liong), kesenian Oray Liong merupakan kesenian asli dari Sumedang yang telah ada sejak tahun 1945. Sepintas kesenian ini terlihat sama dengan kesenian Barongsai dari Cina. Kesamaan terletak pada penggunaan bentuk ular naga atau liong. Bedanya adalah pada alat musik pengiring, warna, dan penggunaan bola mustika pada kesenian Oray Liong ini. Oray liong berwarna hijau, dengan musik pengiring menggunakan alat musik dog-dog, serta terdapat bola mustika yang fungsinya mengarahkan gerakan dari Oray Liong (leader).

                Sayangnya kesenian ini belum banyak diketahui oleh masyarakat luas, hanya segelintir masyarakat yang mengetahui mengenai kesenian Oray Liong ini khususnya masyarakat daerah Jatinangor. Oray Liong merupakan salah satu kesenian yang harus mendapatkan perhatian lebih dari kita generasi muda dan pemerintah khususnya agar tidak punah. Selain itu, kesenian ini juga bisa menjadi potensi pertunjukan kesenian selain Angklung, Tarawangsa, Reak, dan banyak kesenian lainnya.

sumber : Litbang Lises Unpad