Dokumentasi Budaya Lises Unpad : Upacara Ngertakeun Bumi Lamba

_MG_8989

            Lingkung Seni Sunda (Lises) Unpad kembali mengadakan kegiatan Dokumentasi Budaya dalam rangka penelitian dan pengembangan. Objek dokumentasi, kali ini adalah Ngertakeun Bumi Lamba di Gunung Tangkuban Parahu Lembang, yang dilaksanakan pada hari Minggu 26/Juni 2016 .

         Ngertakeun Bumi Lamba merupakan salah satu tradisi yang dianut oleh kepercayaan Sunda Wiwitan. Ngertakeun Bumi Lamba ini merupakan sebuah ritual upacara adat yang ditujukan untuk mensucikan gunung dan sebagai wujud terima kasih dan cinta dari manusia untuk alam dimana kita harus mensejahterakan alam dan diri kita sendiri karena kita akan berpulang dan tinggal di bumi ageung, yakni alam semesta dan bumi alit yaitu diri kita sendiri. Ini adalah sebuah Upacara tahunan di puncak Gunung Tangkuban Parahu, di gelar bertepatan dengan perjalanan matahari yang baru mulai kembali dari paling utara bumi menuju selatan, yaitu di setiap bulan ‘kapitu’ dalam hitungan Suryakala, kala-ider (kalender) sunda. Adapun untuk peserta upacaranya sendiri tidak hanya berasal dari masyarakat tatar sunda tetapi di ikuti berbagai suku dari sabang sampai merauke yang memiliki kepercayaan yang sama atas Gunung Tangkuban Parahu sebagai Gunung Agung dan Purba yang wajib untuk disucikan.

            Pada zaman leluhur, Gunung Tangkuban parahu dipercayai sebagai gunung terbesar di jagad raya ini sehingga Gunung Tangkuban Parahu diagungkan oleh penganutnya. Ditambah dengan pernah meletusnya gunung agung ini menambah  kepercayaan masyarakat sunda wiwitan semakin menjaga gunung ini karena mereka menganggap alam telah murka. Untuk menjaga kestabilan alam para penganut Sunda Wiwitan, maka ritual Upacara Ngertakeun Bumi Lamba dilaksanakan di Tangkuban Perahu. Upacara ini rutin dilaksanakan setiap tahunnya untuk penanggalannya sendiri ditentukan berdasarkan perhitungan bulan.

            Upacara kali ini berbeda dengan upacara tahun lalu, kali ini ada pergantian pemimpin adat, yaitu Jaro Wastu yang telah menjabat sebagai pemimpin adat selama 8 tahun. Kebetulan pada tahun ini digantikan oleh Jaro Manik yang harus memimpin salama 8 tahun atau satu windu berikutya.

            Upacara Ngertakeun Bumi Lambah ini terdiri dari beberapa rangkaian, dimulai dari pengambilan air dari seluruh sumber mata air yang dianggap suci atau keramat dari Sabang sampai Merauke. Setah air-air tersebut terkumpul, kemudian dilakukan ritual Mipit Amit yang dilaksanakan di Babakan Siliwangi. Ritual Mipit Amit ini sebagai bentuk permohonan izin kepada leluhur (sasadu) untuk melaksanakan Upacara Ngertakeun Bumi Lamba. Isi ritual Mipit Amit adalah memberikan doa dan menyatukan atau mempersekutukan air dari berbagai sumber mata air di berbagai daerah untuk dijadikan air suci yang akan digunakan pada saat acara puncak Upacara Ngertakeun Bumi Lamba di gunung Tangkuban Parahu tersebut.

             Setelah dilaksanakannya ritual Mipit Amit ini dilanjutkan dengan penjemputan sesajen, batu, air dari berbagai daerah untuk disatukan dan disucikan pada saat upacara puncak. Ketika semua sesajen dan persembahan lain terkumpul dimulailah upacara puncak yang terdiri dari beberapa rangkaian yaitu :

  1. Rajah Bubuka, dimana Jaro mulai membuka upacara dengan memaparkan tujuan dari dilakukan Upacara Ngertakeun Bumi Lambah ini. Rajah sendiri memiliki arti ungkapan do’a untuk Leluhur dan Tuhan YME. Dimana sifat dari do’a tersebut berbentuk pemujaan yang diiringi lantunan musik yang digunakan untuk berdo’a dan rajah ini merupakan rajanya do’a yang artinya do’a yang memiliki kemaha agungan.
  2. Ngawening (menghening), mengosongkan fikiran mengenai duniawi, dan membiar alam untuk berbicara kepada kita. Memikirkan hal apa saja yang dapat kita lakukan untuk mensejahterakan alam dan menjaga kestabilannya.
  3. Mudra (ngibing), merupakan lantunan doa yang sudah tidak bisa diucapkan melalui kata-kata. Sehingga hanya gerak tubuhlah dengan diiringi lantunan musik yang berisikan lantunan irama doa-doa yang dapat melakukannya. Mudra ini dilakukan dengan cara merefleksikan gerak badan terhadap lantunan musik. Setiap gerakan di dalam mudra memiliki arti tersendiri.
  4. Sambung Tangan, merupakan ritual penyampian/pelantunan doa dari masing-masing kepala suku dari berbagai daerah yang menghadiri Upacara Ngertakeun Bumi Lamba ini. Pelantunan do’a dilakukan sesuai dengan adat dari masing-masing suku.
  5. Larung, merupakan rangkaian terakhir dari Upacara Ngertakeun Bumi Lamba ini dimana ritual ini dilakukan di Kawah Ratu Gunung Tangkuban Parahu. Larung ini terdiri dari persembahan hasil alam (sesajen) ke pada alam dengan melemparkan sesajen yang telah disucikan ke dalam kawah.

      Menghormati Gunung sebagai tempat ‘kabuyutan’ (sumber air, makanan atau juga leluhur),mengingatkan kepada kita, bahwa kesucian gunung adalah sumber utama mahluk di sekitar gunung tersebut, Gunung adalah Pakuan bumi di semesta ini, gunung menjadi sumber nilai spiritual dan budi pekerti yang mendasari perilaku yang berbudaya bagi umat manusia di muka bumi, sebagaimana nama SUNDA yang melekat pada Gunung Tangkuban Parahu ( Purba Kancana Parahyangan).

         Dengan diadakannya upacara ini, maka dampak lainnya adalah, masyarakat sekitar, begitu juga pemerintah akan sadar, bahwa karena gunung ini sumber air, maka kelestarian hutannya harus dijaga ” Mulasara Kabuyutan “. (Litbang Lises Unpad)