LISES UNPAD MENELISIK RAKSUKAN SUNDA

1476155715682

Bandung, Lingkung Seni Sunda Universitas Padjadjaran (Lises Unpad) kembali menunjukkan eksistensinya dalam melestarikan budaya sunda dengan mengadakan sebuah acara Diskusi Budaya berbentuk Talkshow dengan tema bahasan mengenai “Raksukan Sunda”. Acara yang mempunyai tag line “Kuring wanoh tur mikacinta raksukan sunda” ini berlangsung pada hari Sabtu tanggal 08 Oktober 2016 pada pukul 13.00-17.00 bertempat  di BaleRumawat  kampus   Unpad Dipati Ukur.

Diskusi budaya ini merupakan salah satu program kerja dari Divisi Penelitian dan Pengembangan Lises unpad yang bercermin terhadap tri darma perguruan tinggi yaitu pengembangan serta penelitian, khususnya di bidang kebudayaan sunda. Agar senantiasa lestari sehingga generasi masa depan masih dapat mengetahui serta merasakan akan kekayaan budaya sunda yang ada saat ini.  Diskusi Budaya ini membahas seputar Raksukan Sunda atau pakaian khas orang sunda yang biasanya dipakai baik untuk kegiatan sehari-hari maupun kegiatan tertentu seperti pangsi dan kebaya.  “Pada acara talkshow ini dibahas secara tuntas mengenai pangsi dan kebaya mulai dari filosofi, maksud, serta tujuan penggunaan yang tepat untuk kedua jenis pakaian ini” tutur Siti Aminah.  Dengan mengundang pembicara-pembicara yang berkompeten dalam bidangnya seperti kang M.Asep Hadian Adipraja adalah seorang pemerhati budaya, selanjutnya adalah Prof. Drs. Jakob Sumardjo adalah seorang filsuf dari ITB dan yang terakhir adalah kang Deri Eka Firmansyah, S.Pd, serta di pimpin oleh moderator Siti Hajar Riyanti S.P.

Acara yang dihadiri oleh kurang lebih 160 orang mulai dari kalangan mahasiswa hingga para pemerhati budaya sunda  ini berlangsung seru dan interaktif antara audience dan para pembicaranya. “ Harapan dari setelah berlangsungnya acara ini adalah selain menambah wawasan tentang Raksukan Sunda juga agar supaya generasi muda dapat terus melestarikan dan mencintai budaya sunda sehingga tidak kalah oleh budaya barat yang semakin hari semakin mengikis kearifan-kearifan local yang ada”, tutur Siti Aminah sebagai ketua pelaksana.