MILANGKALA LISES KA-35

 

 

BANDUNG, (PR).- Lingkung Seni Sunda (Lises) Unpad parantos ngadeg sareng makalangan ti kapungkur. Kujalaran kitu, kanggo ngaronjatkeun potensi Lises Unpad, Saptu 25 Februari 2017 digelar Milangkala Lises ke-35 di Kampus Unpad di Jalan Raya Dipatiukur, Kota Bandung.

“Pikeun tarẻkah kanggo ngaronjatkeun kaguyuban alumni Lisẻs, dina lolongkrang kagiatan milangkala dieusi kupamilihan Pupuhu “Ikatan Alumni Lises Unpad,” sanggem pupuhu panata calagara Milangkala Lisẻs ka-35, Annisa Putri Setianingsih di Kampus Unpad Bandung.

Anjeuna nyarios, yẻn pamilihan pupuhu alumni Lisẻs ẻta mangrupikeun pamilihan anu munggaran digelar disarengan ku harepan  jungjang pangrawat Lisẻs tiasa ngaronjatkeun kaparigelan Lisẻs.

Dumasar kana warta anu diwawarkeun ku wartawan Kabar Priangan Azis Abdullah, udagan dina ieu acara numutkeun Annisa nyaẻta kanggo ngaronjatkeun silaturahmi diantawis alumni Lisẻs Unpad supados henteu “Pareumeun Obor”. Sakintenna langkung ti 200 jalmi wawakil ti tiap angkatan Lisẻs anu bakal sumping ogẻ janten hak pilih,” sanggemna.

Kagiatan ieu dilumangsungkeun dugi ka wengi disarengan ku pintonan seni.

 

sumber:

http://www.pikiran-rakyat.com/bandung-raya/2017/02/25/milangkala-lingkung-seni-sunda-ke-35-dihadiri-ratusan-peserta-394546

 

“Lises Ngariung” , Milangkala Lises ka – 33

mil1Pemotongan tumpeng oleh pupuhu Lises Unpad 2014-2015 (21/8)

 

mil3

Sebagian wadya balad Lises yang datang ke acara Milangkala Lises ke-33 (21/8)

Lingkung Seni Sunda Universitas Padjadjaran (Lises Unpad) merayakan hari jadi dengan mengadakan acara “Milangkala Lises 33 – Lises Ngariung” pada Sabtu (21/2). Lises Unpad mengundang seluruh wadya balad, sebutan untuk anggota Lises Unpad dan para alumni, untuk memeriahkan hari jadi yang sebenarnya jatuh pada Jumat (20/2). Acara juga terbuka bagi anggota unit lain yang berada di sekitar lokasi acara, yaitu di komplek Unit Kegiatan Mahasiswa wilayah barat.
Acara dimulai dengan pembacaan ayat suci Al-quran. Walau baru dimulai, suasana sudah terasa hangat. Para undangan menikmati sekoteng sembari mendengarkan sambutan dari ketua pelaksana acara Budin (Fakultas Peternakan 2013), pupuhu atau ketua umum Lises Unpad 2014-2015 Siti Hajar Riyanti (Fakultas Pertanian 2012), perwakilan Lembaga Pengembangan Kemahasiswaan dan Alumni (LPKA) Unpad Aceng Abdullah dan perwakilan alumni Lises Duddy R. S.
“Lises itu UKM pertama yang berdiri di Unpad. Harapan saya Lises leuwih nanjeur dengan adanya karya berupa buku yang berisi hasil kegiatan dokumentasi budaya”, tutur Kang Aceng dalam sambutannya
Lises memang memiliki kegiatan rutin dalam pendokumentasian budaya. Kegiatan ini merupakan salah satu kegiatan divisi penelitian dan pengembangan dalam struktur kepengurusan Lises Unpad. Ekspedisi Topeng Jawa Barat, merupakan salah satu contoh kegiatan pendokumentasian budaya yang sempat diadakan oleh Lises. Selain itu, upacara adat nyangku, seren taun, dan hajat laut juga merupakan kegiatan-kegiatan budaya yang sempat dijadikan objek dokumentasi budaya oleh Lises Unpad.
Acara dilanjutkan dengan potong tumpeng yang diberikan oleh pupuhu Lises kepada perwakilan LPKA dan perwakilan alumni. Suasana semakin ramai dengan adanya sesi tukar kado. Rangkaian dihentikan sejenak untuk beribadah shalat magrib. Setelah itu para undangan dipersilahkan untuk menyantap hidangan yang telah disediakan.
Acara kembali dimeriahkan oleh beberapa penampilan perwakilan anggota Lises yang membawakan beberapa lagu pop dan lagu daerah, unit SPDC (Sadaluhung Padjadjaran Drum Corps) membawakan aransemen beberapa lagu klasik dan masa kini dengan alat musik drumband mereka, dan para alumni yang tergabung dalam band Gamus membawakan beberapa lagu yang diiringi alunan musik kontemporer.
Selain bertujuan untuk merayakan hari jadi Lises Unpad yang ke-33, “Milangkala Lises 33” yang bertema ‘ngariung’ juga diharapkan dapat menjadi salah satu ajang berkumpul dan mengakrabkan kembali seluruh alumni dan anggota Lises, dari angkatan pertama hingga angkatan termuda.
“Sae, acarana sae. Ini reuni terbaik yang pernah saya lihat selama di Lises.” , puji Sony, salah satu alumni Lises yang saat ini melanjutkan kuliahnya di STIEPAR Bandung.
Acara ditutup dengan penampilan dari beberapa alumni Lises terbilang sukses dalam bermusik, seperti penyanyi pop Sunda Teh Inonk serta pemilik sanggar ‘Jay Angklung’ Kang Ajey. Acara pun berakhir seiring dengan pesta kembang api yang ditembakkan ke langit.
“Alhamdulillah acara berjalan lancar dan sukses. Alumni dan angota Lises bisa ngariung disini sesuai dengan tujuan awal dilaksanakannya acara ini ” ungkap Budin, selaku ketua pelaksana acara.

Unsur-unsur Pencak Silat menurut IPSI

1800355_916834998346234_2549623734891133048_n

Pencak Silat sering kali dikaitkan dengan penggunaan ilmu-ilmu tenaga dalam. Masyarakat suku Sunda menyebut pesilat dengan istilah jawara. Jawara adalah orang-orang yang dianggap menguasai ilmu bela diri di tatar pasundan. Dengan kemampuan ilmu itulah para jawara mampu mengusir kejahatan atau justru sebaliknya, merekalah yang membuat kejahatan yang meresahkan masyarakat. Kini, jawara jahat cocok disebut dengan istilah preman.

Seiring dengan perkembangan jaman, Pencak Silat tidak lagi berfungsi sebagai ilmu bela diri semata. Pencak Silat dalam naungan IPSI disulap menjadi cabang olahraga yang dianggap mampu merepresentasikan kebudayaan Indonesia dalam kancah nasional maupun internasional.

Maka dari itu, IPSI mendefinisikan Pencak Silat sebagai suatu kesatuan dari 4 unsur, yaitu :
1. Unsur seni (merupakan wujud budaya dalam kaidah gerak dan irama yang tunduk pada keseimbangan, keselarasan dan keserasian);
2. Unsur bela diri (memperkuat naluri manusia untuk membela diri terhadap berbagai ancaman dan bahaya dengan teknik dan taktik yang efektif);
3. Unsur olahraga (mengembangkan kegiatan jasmani untuk mendapatkan kebugaran, ketangkasan maupun prestasi olahraga);
4. Unsur olahbatin (membentuk sikap dan kepribadian luhur dengan menghayati dan mengamalkan berbagai nilai dan norma adat istiadat yang mengandung makna sopan santun sebagai etika kalangan pendekar).

(A. Muslim – KandagaPS)

Meninjau Asal Muasal Istilah Pencak Silat

10696292_916836428346091_1332812233708524147_n

Pencak silat merupakan seni bela diri asli Indonesia. Ditinjau dari perspektif sejarah bahwa alasan gagalnya Majapahit mengalahkan kerajaan di tatar Pasundan disebabkan karena keahlian musuh dalam membela diri menggunakan beberapa aliran pencak silat di daerahnya (Jawa Barat).

Pencak Silat merupakan kata majemuk yang terdiri dari dua kata yakni Pencak dan Silat. Tentu saja terdapat definisi yang mengandung nilai filosofis tinggi sehingga nama/istilah Pencak Silat semakin mendunia.

Persilat yang merupakan organisasi federatif internasional mengatakan bahwa kata Pencak biasa digunakan oleh masyarakat pulau Jawa, Madura dan Bali, sedangkan kata Silat biasa digunakan oleh masyarakat di wilayah Indonesia lainnya maupun di Malaysia, Singapura, Brunei Darussalam serta di Thailand (bagian Selatan) dan Filipina.

Penggabungan kata Pencak dan Silat menjadi kata majemuk untuk pertama kalinya dilakukan pada pembentukan suatu organisasi persatuan dari perguruan Pencak dan perguruan Silat di Indonesia yang diberi nama Ikatan Pencak Silat Indonesia, disingkat “IPSI” pada tahun 1948 di Surakarta.

[A. Muslim – KandagaPS]

Menjadi Pesilat, Mengapa Mesti Malu?

10665269_912151082147959_3650663170679496456_nPesatnya perkembangan teknologi membuat budaya asing sangat mudah masuk ke Indonesia. Berbagai media: cetak dan elektronik menjadi elemen penting akan pengaruhnya terhadap dikenalnya budaya asing di Indonesia kini. Jika remaja Indonesia kini lebih mengenali K-Pop daripada kawih Sunda, maka sudah dipastikan bahwa mereka telah sukses menghancurkan rasa cinta dan bangga kita pada budaya lokal.

Tidak terkecuali seni bela diri, kini di Indonesia sudah mulai marak perguruan-perguruan bela diri asal negara lain seperti halnya Taekwondo (Korea), Karate (Jepang), Muay Thai (Thailand), Capoeira (Brazil) dll. Ironisnya, remaja kita lebih cenderung meminati seni bela diri asal asing itu. Padahal, kita telah memiliki Pencak Silat yang merupakan seni bela diri khas nusantara. Dari hal itu, Mungkin kita harus belajar dari China yang menjadikan sekolah bela diri Kung Fu (Shaolin Temple) sebagai daya tarik wisata.

Untungnya, ketika sebagian semakin meninggalkan budayanya ternyata masih ada yang justru berusaha mengembalikan Pencak Silat ke permukaan. Film laga The Raid yang diputar serempak secara internasional membuat orang asing berbondong-bondong menunjukan kekaguman dan memberikan penghargaannya terhadap Pencak Silat. Tak hanya itu, Pada SEA Games XXVII tahun 2003, Indonesia memperoleh 4 emas, 4 perak dan 3 perunggu dari keseluruhan 55 medali yang diperebutkan. Pada SEA Games 2011 di Jakarta, cabang olahraga Pencak Silat berhasil mendapatkan juara umum dengan menyabet 9 dari 18 nomor yang dipertandingkan.

Dengan segudang prestasi tersebut, kita selaku putra dan putri Indonesia sepatutnya turut menjaga Pencak Silat agar lestari di negerinya sendiri. Begitu banyak remaja Indonesia yang lebih memilih memelajari Karate, Aikido, Kung Fu, Kempo, Taekwondo, dll. Kini saatnya Pencak Silat dikenali dan dicintai bangsanya sendiri. Jika bukan kita, siapa lagi?

[A. Muslim – KandagaPS]

Kandaga Lises Unpad 2014

10346517_708287089263436_5829959117257197730_n

KANDAGA: SALAH SAHIJI MAHA KARYA MIWUJUD PAGELARAN NU NYOKO KANA NGAMUMULE BUDAYA SUNDA
—————————–

PAT (Pagelaran Akhir Taun) nyaéta salah sahiji program kagiatan ti Divisi Paméntasan Lises Unpad 2014. Jejer utama nu diangkat dina PAT ieu ngeunaan litbang (Penelitian jeung Pengembangan). Naha bet litbang? Kusabab litbang ngarupakeun salah sahiji widang organisasi anu ngabédakeun Lises Unpad jeung lingkung seni kamahasiswaan lianna. Ngaliwatan litbang, wadya balad Lises Unpad tiasa nalungtik jeung ngamekarkeun kasenian-kasenian Sunda, teu saukur praktek dina kesenianna wungkul (misalna: nari).

Sajalan jeung tujuan litbang, PAT ayeuna ngaharepkeun tiasa ngarojong masarakat pikeun ilubiung nalungtik jeung ngamekarkeun kesenian-kesenian Sunda. Salian ti jejer utama nu diangkat dina PAT, aya ogé téma nu diangkat dina acara ieu nyaéta Kandaga. Kandaga miboga harti nyaéta hiji kotak paranti ngawadahan perhiasan-perhiasan. Wadah éta nyilokakeun yén acara PAT reumbeuy ku budaya Sunda nu kudu dijaga ku urang babarengan. Janten, acara ieu mangrupikeun salah sahiji tempat pikeun mikawanoh, nyukcruk pangarti, jeung ngamekarkeun budaya Sunda di Jawa Barat supaya éta pusaka teu leungit.

Kandaga miboga sababaraha hiji runtuyan acara diantarana aya pasanggiri dokumentasi budaya dina wujud karya tulis tingkat SMA sa-Jawa Barat, Pasanggiri Pencak Silat tingkat SD sa-Bandung Raya, jeung pamentasan ti wadya balad lises.

Pamindo Basa: A. Rijal N

Editor: A.Muslim

—————————————————————————————————————————————-

KANDAGA: SEBUAH MAHA KARYA BERBENTUK PAGELARAN YANG BERORIENTASIKAN KEPADA PELESTARIAN BUDAYA SUNDA
——————————————

PAT (Pagelaran Akhir Tahun) merupakan salah satu program kerja Divisi Pementasan Lises Unpad 2014. Tema yang diusung dalam PAT kali ini mengenai penelitian dan pengembangan (litbang). Mengapa harus litbang? Hal tersebut disebabkan adanya peran litbang sebagai bidang organisasi yang membedakan Lises Unpad dengan lingkung seni kemahasiswaan yang lain. Melalui peran litbang, para anggota Lises Unpad dapat meneliti dan mengembangkan kesenian-kesenian Sunda, tidak sebatas hanya praktik dalam kegiatan seninya saja (misalnya:menari).

Sejalan dengan tujuan litbang, PAT kali ini mengharapkan peran aktif masyarakat dalam kegiatan penelitian dan pengembangan kesenian-kesenian Sunda. Selain dari tema litbang yang diangkat pada PAT, terdapat pula tema yang lain yaitu Kandaga. Kandaga memiliki arti yaitu suatu kotak yang berfungsi untuk menyimpan berbagai macam perhiasan. Kotak tersebut menyimbolkan bahwa acara PAT sarat dengan budaya Sunda yang perlu kita lestarikan bersama. Jadi, acara ini merupakan salah satu tempat untuk mengenalkan, mempelajari, dan mengembangkan budaya Sunda di Jawa Barat demi tercapainya tujuan tidak kehilangan pusaka/perhiasan yang dimaksud (baca:budaya).

Kandaga memiliki rangkaian konten acara seperti: Pasanggiri dokumentasi budaya dalam wujud karya tulis tingkat SMA se-Jawa Barat, pasanggi pencak silat tingkat SD se-Bandung Raya, dan ditutup dengan pagelaran dari para penari Lises Unpad.

Penerjemah Bahasa Indonesia: A.Muslim

Dokumentasi Budaya

Indonesia memiliki banyak sekali budaya. Di setiap daerahnya terdapat beraneka ragam bahasa, kesenian, dan juga unsur-unsur kebudayaan lain yang khas. Contohnya Banten dengan kehidupan suku Baduy yang khas, Padang dengan tarian piringnya, Bali dengan upacara ngaben, dan masih banyak lagi.

Saking banyaknya, kadang kita sebagai bangsa Indonesia tidak melestarikan setiap budaya yang ada di daerah asal kita. Bahkan jika dilihat, banyak bangsa Indonesia (apalagi generasi muda) yang sama sekali tidak peduli dengan budaya yang kita punya dan lebih memilih budaya negara lain dengan alasan “tidak mau ketinggalan jaman” dan “budaya luar lebih keren”. Tidak heran mengapa terdapat banyak kasus tentang negara lain yang “mencuri” kebudayaan kita.

Selain kasus diatas, budaya kita pun bisa menghilang. Jika para generasi muda sudah tidak melirik pada suatu kebudayaan, ketika sudah tidak ada lagi orang yang bisa melestarikannya maka budaya tersebut hanya tinggal sebuah nama. Bahkan budaya tersebut akan hilang tidak berbekas. Sekarang sudah banyak pemuda yang tidak mengenal budaya daerahnya sendiri. Salah satu contohnya adalah hampir semua pemuda yang tinggal di Ciamis pasti mengenal Ondel-ondel yang berasal dari Jakarta, tapi tidak banyak yang mengenal tari Ronggeng Gunung yang berasal dari Ciamis sendiri.

Padahal kita bisa melestarikan suatu kebudayaan hanya dengan memperhatikannya. Meskipun hanya bisa mendengar namanya dan sekedar mengetahui saja, kita bisa menyelamatkan suatu budaya dari “kepunahannya”. Akan lebih baik jika kita mendokumentasikan budaya tersebut kedalam sebuah artikel, video, atau media lainnya. Selain kita bisa mempelajarinya melalui media tersebut setiap saat, kita bisa melestarikannya dengan mengenalkannya kepada orang lain.

Lises Unpad yang telah melakukan ekspedisi ke beberapa daerah di sekitar Jawa Barat untuk mendokumentasikan budaya setempat, mengajak adik-adik SMA/sederajat untuk melakukan hal yang sama. Pada acara KANDAGA yang diselenggarakan oleh Lises Unpad, terdapat Lomba Dokumentasi Budaya. Adik-adik diminta untuk melakukan dokumentasi budaya yang ada di masing-masing daerah asal. Dengan kegiatan ini, adik-adik bisa menyelamatkan banyak budaya Indonesia. Contoh Doumentasi Budaya yang telah dilakukan oleh Lises Unpad :

Untuk ketentuan Dokumentasi Budaya bisa didownload dengan cara meng-klik link dibawah ini:

Ketentuan Dokbud

Paheuyeuk-heuyeuk Leungeun dina Sawindu

_MG_7047

Budaya adalah salah satu unsur yang sangat penting dalam suatu lingkungan juga sebagai cara untuk berkembang dari satu generasi ke generasi selanjutnya. Melalui budaya, terciptalah suatu karya seni warisan dari suatu bangsa.
Namun seiring perkembangan zaman, eksistensi kebudayaan lokal semakin tersisihkan. Westernisasi merupakan salah satu faktor yang membuat kebudayaan lokal kehilangan peminat, atau sekedar penikmat. Lingkung Seni Sunda Universitas Padjadjaran (Lises Unpad) sebagai sebuah organisasi unit kegiatan mahasiswa yang bergerak dalam bidang kesenian tradisional sunda merasa perlu untuk melestarikan kebudayaan lokal, khususnya kebudayaan sunda.
Untuk mewujudkan tujuan tersebut Lises Unpad mengadakan Pementasan Mandiri bertajuk “Sawindu” yaitu pagelaran seni yang menampilkan berbagai kesenian khas Jawa Barat yang seluruhnya diiringi langsung oleh para pemusik gamelan Lises Unpad. Pagelaran ini mengambil tema Paheuyeuk-heuyeuk Leungeun Nanjeurkeun Ajen Ki Sunda yaitu berarti Lises Unpad secara langsung mengajak untuk saling bahu membahu melestarikan budaya sunda.
Acara ini diselenggarakan di Lapangan Bale santika Kampus Universitas Padjadjaran Jatinangor pada Sabtu (7/5). Ratusan penonton yang hadir diberi suguhan 10 tarian tradisional yaitu Tari Merak, Tari Badaya, Tari Katumbiri, Tari Makalangan, Tari Monggawa, Tari Lenyepan, Tari Langit Biru, Tari Ronggeng Panggung, Tari Bajidor Kahot dan Tari Blantek, serta rampak kendang dan celempungan kacapi suling.
“Saur abdi mah acara ieu teh, wahh edan pisan lah. Pokona abdi jauh-jauh ti garut ka dieu, esan pokona mah. Acaranya keren banget, pokoknya budaya sunda di sini bener-bener dipertunjukkan dengan baik. Dan saya bangga dengan budaya sunda. Sukses terus Lises.” Wibi dari Garut.
“Acaranya tuh keren banget. Bisa mngenalkan budaya lewat nari-nari. Pokonya terus adain acara ini terus, jangan putus-putus kemudian masyarakat atau teman-teman mahasiswa bisa mengenal budaya sunda khususnya. Keren.” Adit dari Unsoed Purwokerto.
Keberhasilan acara Pagelaran Mandiri yang telah lebih dari lima ratus orang penonton dapat membangkitkan semangat remaja terutama mahasiswa Unpad untuk menghargai dan ikut melestarikan budaya yang berasal dari daerahnya sendiri, dalam upaya menjaga kekayaan Indonesia dalam hal budaya.

Pementasan Mandiri : SAWINDU

PMPM2 (1)

Ingin lihat bagaimana penampilan perdana adik-adik Wisnuwarman ? Kangen lihat penampilan akang-teteh Jayasingawarman,Darmayawarman dan wadya balad Lises lainnya? tenaaaang, rasa penasaran dan kangen akan terobati pada tanggal 7 Juni 2014.
Datang dan ramaikan yuuuk! sambil malem mingguan, sambil refreshing sebelum UAS.
Jangan sampai kelewatan di Lap.Basket Bale Santika, open gate mulai jam 18.30 WIB 😀 diantosnyaaaaa!

“Rumpaka 31” Tiga Acara dalam Satu Rangkaian

DSC_0485 (2)
Rumpaka 31 merupakan salah satu kegiatan yang telah diselenggarakan oleh Lingkung Seni Sunda Universitas Padjadjaran (Lises Unpad). Rumpaka 31 memiliki arti “Ngarumat Kebudayaan Topeng jeung Pencak Silat” dimana angka 31 memiliki arti terdapat 3 rangkaian acara dalam 1 kegiatan. Acara yang diselengarakan yaitu Talkshow Ekspedisi Topeng, Pasanggiri Pencak Silat, dan Oratorium Palagan Bubat.
Talkshow Ekspedisi Topeng diselenggarakan pada tanggal 28 November 2014 dengan pembicara Toto Amsar yang merupakan salah seorang dosen di Sekolah Tinggi Seni Indonesia dan pemerhati Tari Topeng. Talkshow ekspedisi topeng ini membahas mengenai keberagaman tari topeng di Jawa Barat dan menyajikan hasil dokumentasi budaya yang telah dilaksanakan pada 15 – 28 Juli 2013 oleh anggota Lises Unpad. Sebanyak 3 tim yang tersebar di 3 wilayah, yaitu bekasi,sumedang,dan cirebon mengeksplorasi kesenian tari topeng pada masing-masing daerah selama 2 minggu. Hasil yang ditampilkan pada talkshow berupa penampilan tari secara langsung dan pemutaran video selama ekspedisi.
Rangkaian acara berikutnya yaitu pasanggiri pencak silat tingkat SD dan SMP se-Bandung Raya yang diselenggarakan pada tanggal 30 November 2014. Tahun ini Lises Unpad bekerjasama dengan Ikatan Pencak Silat Indonesia Kota Bandung. Sebanyak 80 peserta tampil dengan sangat baik dan memberikan konsep pencak silat yang beragam dan menarik.
Setelah pasanggiri pencak silat usai, acara puncak yang masih diselenggarakan pada 30 November 2013 dimulai. Pukul 19.00 penonton yang sudah mengantri di luar lapangan basket Bale Santika Unpad diperbolehkan untuk masuk. Kali ini Lises Unpad meyajikan sebuah Sendratari Pagelaran Kolosal mengenai Palagan BUbat yang disutradarai langsung oleh Dalang Apep A.S. Hudaya. Semua pemain teater dan pemain gamelan merupakan anggota Lises Unpad. Penampilan yang disuguhkan sangat menarik, tak sedikit penonton yang merasa puas setelah acara selesai. Semoga kegiatan-kegiatan seperti ini dapat terus terlaksana, agar kebudayaan Sunda yang telah ada tidak terlupakan.