Unsur-unsur Pencak Silat menurut IPSI

1800355_916834998346234_2549623734891133048_n

Pencak Silat sering kali dikaitkan dengan penggunaan ilmu-ilmu tenaga dalam. Masyarakat suku Sunda menyebut pesilat dengan istilah jawara. Jawara adalah orang-orang yang dianggap menguasai ilmu bela diri di tatar pasundan. Dengan kemampuan ilmu itulah para jawara mampu mengusir kejahatan atau justru sebaliknya, merekalah yang membuat kejahatan yang meresahkan masyarakat. Kini, jawara jahat cocok disebut dengan istilah preman.

Seiring dengan perkembangan jaman, Pencak Silat tidak lagi berfungsi sebagai ilmu bela diri semata. Pencak Silat dalam naungan IPSI disulap menjadi cabang olahraga yang dianggap mampu merepresentasikan kebudayaan Indonesia dalam kancah nasional maupun internasional.

Maka dari itu, IPSI mendefinisikan Pencak Silat sebagai suatu kesatuan dari 4 unsur, yaitu :
1. Unsur seni (merupakan wujud budaya dalam kaidah gerak dan irama yang tunduk pada keseimbangan, keselarasan dan keserasian);
2. Unsur bela diri (memperkuat naluri manusia untuk membela diri terhadap berbagai ancaman dan bahaya dengan teknik dan taktik yang efektif);
3. Unsur olahraga (mengembangkan kegiatan jasmani untuk mendapatkan kebugaran, ketangkasan maupun prestasi olahraga);
4. Unsur olahbatin (membentuk sikap dan kepribadian luhur dengan menghayati dan mengamalkan berbagai nilai dan norma adat istiadat yang mengandung makna sopan santun sebagai etika kalangan pendekar).

(A. Muslim – KandagaPS)

Meninjau Asal Muasal Istilah Pencak Silat

10696292_916836428346091_1332812233708524147_n

Pencak silat merupakan seni bela diri asli Indonesia. Ditinjau dari perspektif sejarah bahwa alasan gagalnya Majapahit mengalahkan kerajaan di tatar Pasundan disebabkan karena keahlian musuh dalam membela diri menggunakan beberapa aliran pencak silat di daerahnya (Jawa Barat).

Pencak Silat merupakan kata majemuk yang terdiri dari dua kata yakni Pencak dan Silat. Tentu saja terdapat definisi yang mengandung nilai filosofis tinggi sehingga nama/istilah Pencak Silat semakin mendunia.

Persilat yang merupakan organisasi federatif internasional mengatakan bahwa kata Pencak biasa digunakan oleh masyarakat pulau Jawa, Madura dan Bali, sedangkan kata Silat biasa digunakan oleh masyarakat di wilayah Indonesia lainnya maupun di Malaysia, Singapura, Brunei Darussalam serta di Thailand (bagian Selatan) dan Filipina.

Penggabungan kata Pencak dan Silat menjadi kata majemuk untuk pertama kalinya dilakukan pada pembentukan suatu organisasi persatuan dari perguruan Pencak dan perguruan Silat di Indonesia yang diberi nama Ikatan Pencak Silat Indonesia, disingkat “IPSI” pada tahun 1948 di Surakarta.

[A. Muslim – KandagaPS]

Menjadi Pesilat, Mengapa Mesti Malu?

10665269_912151082147959_3650663170679496456_nPesatnya perkembangan teknologi membuat budaya asing sangat mudah masuk ke Indonesia. Berbagai media: cetak dan elektronik menjadi elemen penting akan pengaruhnya terhadap dikenalnya budaya asing di Indonesia kini. Jika remaja Indonesia kini lebih mengenali K-Pop daripada kawih Sunda, maka sudah dipastikan bahwa mereka telah sukses menghancurkan rasa cinta dan bangga kita pada budaya lokal.

Tidak terkecuali seni bela diri, kini di Indonesia sudah mulai marak perguruan-perguruan bela diri asal negara lain seperti halnya Taekwondo (Korea), Karate (Jepang), Muay Thai (Thailand), Capoeira (Brazil) dll. Ironisnya, remaja kita lebih cenderung meminati seni bela diri asal asing itu. Padahal, kita telah memiliki Pencak Silat yang merupakan seni bela diri khas nusantara. Dari hal itu, Mungkin kita harus belajar dari China yang menjadikan sekolah bela diri Kung Fu (Shaolin Temple) sebagai daya tarik wisata.

Untungnya, ketika sebagian semakin meninggalkan budayanya ternyata masih ada yang justru berusaha mengembalikan Pencak Silat ke permukaan. Film laga The Raid yang diputar serempak secara internasional membuat orang asing berbondong-bondong menunjukan kekaguman dan memberikan penghargaannya terhadap Pencak Silat. Tak hanya itu, Pada SEA Games XXVII tahun 2003, Indonesia memperoleh 4 emas, 4 perak dan 3 perunggu dari keseluruhan 55 medali yang diperebutkan. Pada SEA Games 2011 di Jakarta, cabang olahraga Pencak Silat berhasil mendapatkan juara umum dengan menyabet 9 dari 18 nomor yang dipertandingkan.

Dengan segudang prestasi tersebut, kita selaku putra dan putri Indonesia sepatutnya turut menjaga Pencak Silat agar lestari di negerinya sendiri. Begitu banyak remaja Indonesia yang lebih memilih memelajari Karate, Aikido, Kung Fu, Kempo, Taekwondo, dll. Kini saatnya Pencak Silat dikenali dan dicintai bangsanya sendiri. Jika bukan kita, siapa lagi?

[A. Muslim – KandagaPS]

Kandaga Lises Unpad 2014

10346517_708287089263436_5829959117257197730_n

KANDAGA: SALAH SAHIJI MAHA KARYA MIWUJUD PAGELARAN NU NYOKO KANA NGAMUMULE BUDAYA SUNDA
—————————–

PAT (Pagelaran Akhir Taun) nyaéta salah sahiji program kagiatan ti Divisi Paméntasan Lises Unpad 2014. Jejer utama nu diangkat dina PAT ieu ngeunaan litbang (Penelitian jeung Pengembangan). Naha bet litbang? Kusabab litbang ngarupakeun salah sahiji widang organisasi anu ngabédakeun Lises Unpad jeung lingkung seni kamahasiswaan lianna. Ngaliwatan litbang, wadya balad Lises Unpad tiasa nalungtik jeung ngamekarkeun kasenian-kasenian Sunda, teu saukur praktek dina kesenianna wungkul (misalna: nari).

Sajalan jeung tujuan litbang, PAT ayeuna ngaharepkeun tiasa ngarojong masarakat pikeun ilubiung nalungtik jeung ngamekarkeun kesenian-kesenian Sunda. Salian ti jejer utama nu diangkat dina PAT, aya ogé téma nu diangkat dina acara ieu nyaéta Kandaga. Kandaga miboga harti nyaéta hiji kotak paranti ngawadahan perhiasan-perhiasan. Wadah éta nyilokakeun yén acara PAT reumbeuy ku budaya Sunda nu kudu dijaga ku urang babarengan. Janten, acara ieu mangrupikeun salah sahiji tempat pikeun mikawanoh, nyukcruk pangarti, jeung ngamekarkeun budaya Sunda di Jawa Barat supaya éta pusaka teu leungit.

Kandaga miboga sababaraha hiji runtuyan acara diantarana aya pasanggiri dokumentasi budaya dina wujud karya tulis tingkat SMA sa-Jawa Barat, Pasanggiri Pencak Silat tingkat SD sa-Bandung Raya, jeung pamentasan ti wadya balad lises.

Pamindo Basa: A. Rijal N

Editor: A.Muslim

—————————————————————————————————————————————-

KANDAGA: SEBUAH MAHA KARYA BERBENTUK PAGELARAN YANG BERORIENTASIKAN KEPADA PELESTARIAN BUDAYA SUNDA
——————————————

PAT (Pagelaran Akhir Tahun) merupakan salah satu program kerja Divisi Pementasan Lises Unpad 2014. Tema yang diusung dalam PAT kali ini mengenai penelitian dan pengembangan (litbang). Mengapa harus litbang? Hal tersebut disebabkan adanya peran litbang sebagai bidang organisasi yang membedakan Lises Unpad dengan lingkung seni kemahasiswaan yang lain. Melalui peran litbang, para anggota Lises Unpad dapat meneliti dan mengembangkan kesenian-kesenian Sunda, tidak sebatas hanya praktik dalam kegiatan seninya saja (misalnya:menari).

Sejalan dengan tujuan litbang, PAT kali ini mengharapkan peran aktif masyarakat dalam kegiatan penelitian dan pengembangan kesenian-kesenian Sunda. Selain dari tema litbang yang diangkat pada PAT, terdapat pula tema yang lain yaitu Kandaga. Kandaga memiliki arti yaitu suatu kotak yang berfungsi untuk menyimpan berbagai macam perhiasan. Kotak tersebut menyimbolkan bahwa acara PAT sarat dengan budaya Sunda yang perlu kita lestarikan bersama. Jadi, acara ini merupakan salah satu tempat untuk mengenalkan, mempelajari, dan mengembangkan budaya Sunda di Jawa Barat demi tercapainya tujuan tidak kehilangan pusaka/perhiasan yang dimaksud (baca:budaya).

Kandaga memiliki rangkaian konten acara seperti: Pasanggiri dokumentasi budaya dalam wujud karya tulis tingkat SMA se-Jawa Barat, pasanggi pencak silat tingkat SD se-Bandung Raya, dan ditutup dengan pagelaran dari para penari Lises Unpad.

Penerjemah Bahasa Indonesia: A.Muslim

Dokumentasi Budaya

Indonesia memiliki banyak sekali budaya. Di setiap daerahnya terdapat beraneka ragam bahasa, kesenian, dan juga unsur-unsur kebudayaan lain yang khas. Contohnya Banten dengan kehidupan suku Baduy yang khas, Padang dengan tarian piringnya, Bali dengan upacara ngaben, dan masih banyak lagi.

Saking banyaknya, kadang kita sebagai bangsa Indonesia tidak melestarikan setiap budaya yang ada di daerah asal kita. Bahkan jika dilihat, banyak bangsa Indonesia (apalagi generasi muda) yang sama sekali tidak peduli dengan budaya yang kita punya dan lebih memilih budaya negara lain dengan alasan “tidak mau ketinggalan jaman” dan “budaya luar lebih keren”. Tidak heran mengapa terdapat banyak kasus tentang negara lain yang “mencuri” kebudayaan kita.

Selain kasus diatas, budaya kita pun bisa menghilang. Jika para generasi muda sudah tidak melirik pada suatu kebudayaan, ketika sudah tidak ada lagi orang yang bisa melestarikannya maka budaya tersebut hanya tinggal sebuah nama. Bahkan budaya tersebut akan hilang tidak berbekas. Sekarang sudah banyak pemuda yang tidak mengenal budaya daerahnya sendiri. Salah satu contohnya adalah hampir semua pemuda yang tinggal di Ciamis pasti mengenal Ondel-ondel yang berasal dari Jakarta, tapi tidak banyak yang mengenal tari Ronggeng Gunung yang berasal dari Ciamis sendiri.

Padahal kita bisa melestarikan suatu kebudayaan hanya dengan memperhatikannya. Meskipun hanya bisa mendengar namanya dan sekedar mengetahui saja, kita bisa menyelamatkan suatu budaya dari “kepunahannya”. Akan lebih baik jika kita mendokumentasikan budaya tersebut kedalam sebuah artikel, video, atau media lainnya. Selain kita bisa mempelajarinya melalui media tersebut setiap saat, kita bisa melestarikannya dengan mengenalkannya kepada orang lain.

Lises Unpad yang telah melakukan ekspedisi ke beberapa daerah di sekitar Jawa Barat untuk mendokumentasikan budaya setempat, mengajak adik-adik SMA/sederajat untuk melakukan hal yang sama. Pada acara KANDAGA yang diselenggarakan oleh Lises Unpad, terdapat Lomba Dokumentasi Budaya. Adik-adik diminta untuk melakukan dokumentasi budaya yang ada di masing-masing daerah asal. Dengan kegiatan ini, adik-adik bisa menyelamatkan banyak budaya Indonesia. Contoh Doumentasi Budaya yang telah dilakukan oleh Lises Unpad :

Untuk ketentuan Dokumentasi Budaya bisa didownload dengan cara meng-klik link dibawah ini:

Ketentuan Dokbud