INFO LITBANG : KASENIAN PONTRANGAN DI CIMARAGAS

 

 

Pontrangan nyaéta kasenian nu aya di Kacamatan Cimaragas, Ciamis, Jawa Barat. Pontrangan, asal kecapna tina Pontrang nu mangrupa dadampar katuangan idangan jaman kapungkur nu aya di sabudeureun Cimaragas. Katompérnakeun, masarakat mikawanoh yén pontrangan mangrupa kasenian anu diigelan ku sababaraha urang dina raraga helaran atawa aleut-aleutan. Penari dina kasenian Pontrangan ieu katelah, Manusa Pontrang.

Di Cimaragas jaman kapungkur, pontrang nyaéta dadampar katuangan idangan pikeun susuguh ka sémah. Diantarana bubuahan, peuyeum, jrrd. Pontrang dijieun tina daun dahon, salah sahiji tatangkalan nu sok aya di walungan. Dianyam nuturkeun pola nu aya, nepi ka bener-bener bisa ngawadahan sabangsana idangan. Katompérnakeun, pontrang kasilih ku pakakas dapur tinu palastik nu leuwih awét. Hasilna, nonoman wewengkon Cimaragas beuki jauh tina kasadaran kana kakayaan budaya, hususna kana pakakas dapur nu kungsi kakoncara di jamanna.

Manusa Pontrang ieu ngigel bari dibungkus ku dadaunan nu dipaké nyieun Pontrang. Ti mimiti topi nepi ka pakéanana maké daun dahon téa. Ari Pontrangnamah tuluy dikongkorongkeun nu hasilna jadi siga taméng nu nutupan dadana. Sakilas persis jeung bebegig. Manusa Pontrang éta ngigel nuturkeun sora dog-dog nu ditakol ku grup séjén. Pontrangan ieu jadi mamanis dina helaran atawa aleut-aleutan dina raraga sukuran atawa upacara adat wewengkon Cimaragas.

Kasenian Pontrangan ieu boga pungsi pikeun ngawanohkeun ka masarakat, hususna ka para nonoman yén Pontrang téh baheula kacida ngoncrangna jeung teu bisa dipisahkeun dina urusan kulinér sapopoé masarakat. Harepanana, sangkan bisa ngaronjatkeun kasadaran jeung rasa reueus masarakat kana kaarifan lokal daérahna.

 

-Aziz Muslim-

PEDULI PADA BUDAYA, HARGA MATI! Karinding Celempungan Harus Lestari

DSC_0110 copyPerkenalkan kami adalah tim dokumentasi budaya Lises Unpad. Pada Sabtu (19/12) lalu kami melakukan kegiatan dokumentasi budaya di daerah Sumedang, tepatnya di daerah Parakan Muncang. Disana, kami menggali informasi mengenai salah satu alat musik dari daerah Jawa Baratyaitu karinding dan celempungan. Apakah nama karinding dan celempungan terdengar asing bagi anda? Alat musik tradisional? Betul sekali, karinding merupakan salah satu alat musik tradisionalSunda yang telah ada sejak jaman dahulu, begitu pula dengan celempungan. Berbagai waditra bambu yang dimainkan bersama dengan celempung, disebut dengan celempungan, termasuk didalamnya karinding. Arti dari celempung itu sendiri dalam Bahasa Sunda disebut juga dengan “pirigan”.

Jika anda bertanya bagaimana asal usul dan sejarah dari karinding celempungan, tidak ada yang tahu persis jawabannya, begitu pula dengannarasumber kami yaitu bapak Enang Sugriwa yang lebih akrab dengan sapaan Abah Olot. Beliautidak bisa menemukan asal-usul atau sejarah karinding celempungan, dari mana asalnya atau siapa yang pertama membuatnya.Menurut Abah Olot, celempungan ini sudah ada sejak jaman penjajahan Belanda. Saat zaman penjajahan ini,untuk bermain karinding celempungan masyarakat harusmelakukannya secara sembunyi-sembunyi, jauh dari jangkauan para penjajah agar alat tersebut tidak dirampas. Hal itu menjadi salah satu alasan mengapa asal usul karinding celempungan ini tidak diketahui.

Pada jaman dulu, karinding celempungan ini biasa digunakan untuk mengusir hama yang ada di sawah ataupun di kebun, juga biasa dibunyikan disaat ada kejadian alam seperti gempa bumi atau gerhana.Karinding celempungan dipilih karena bahan dasarnya mudah didapatkan yaitu bambu.Bambu ini tanaman yang tumbuh subur di Jawa Barat, kita dapat menjumpainya di mana-mana, terutama di hutan atau kebun di daerah perkampungan.Meskipun demikian, membuat alat musik ini tidak semudah mendapatkan bahannya, ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam membuat alat musik karinding celempungan diantaranya adalah jenis bambu, usia bambu, hingga tingkat kekeringannya.

Ada beberapa jenis bambu yang biasa digunakan untuk membuat waditra dari karinding celempungan diantaranya adalah bambu yang berwarna hitam atau bambu “gombong”, bambu yang berukuran besar dan bambu “pitung”.Umur bambu pun harus di perhatikan dalam membuat alat musik ini, biasanya bambu yang dianggap sudah cukup baik untuk membuat karinding celempungansudah berumur 5 tahun. Bukan hanya itu, bambu yang mau dibuat celempungan terlebih dahulu harus dijemur langsung di bawah matahari selama satu tahun agar dapat menghasilkan suara yang bagus.

Tidak mudahnya membuat karinding celempungan ini tidak membuat Abah Olot berhenti membuat dan memainkannya, ketika ditanya alasan mengapa Beliau masih mau melestarikan karinding celempungan, beliau menjawab bahwa beliau bertekad untuk mengembangkan kembali alat musik tradisional ini.“Saya ingin berbagi ilmu kepada semua masyarakat karena jika kita mempunyai ilmu tapi tidak dikembangkan dan tidak dibagikan maka ilmu itu tidak bermanfaat” jawabnya dengan lantang. Alasan lain yang Abah Olot utarakan pada kami adalah bahwa Abah Olot diberi amanah oleh orang tuanya agar memperkenalkan kembali karinding dan celempungan ini.

Tekad untuk berbagi ilmu tersebut semakin kuat ketika Abah Olot membaca sebuah buku yang di dalamnya terdapat tulisan bahwa karinding dan celempungantermasuk kedalam salah satu alat musik yang hampir punah. Dengan tekad yang semakin kuat, Abah Olot mulai mengembangkan kembali karinding pada tahun 2004-2005.Dengan niat tulus dan usaha yang tak pernah berhenti hingga saat ini, akhirnya alat musik karinding telah kembali populer dan tidak dianggap hampir punah lagi.

Tentunya tidak mudah untuk memopulerkan kembali karinding dan celempungan di tengah masyarakat,namun tanpa diduga, Abah Olot menggunakan cara yang sangat sederhana.Abah Olot mengenalkan karinding celempungan kepada masyarakat dengan cara mulut ke mulut, lalu jika ada yang bertanya bagai mana cara memainkannya, Abah Olot akan dengan senang hati mengajari dan mempraktikannya langsung.Dengan cara tersebut, alat musik karinding dan celempungan ini mudah menyebar, dapat kita lihat sendiri saat ini tidak sedikit anak muda terutama yang ada di darah Sumedang dan Bandung telah mempunyai komunitas karinding dan celempungan. Hal tersebut tentunya merupakan bagian dari perjalanan Abah Olot yang berkeinginan luar biasa untuk menonjolkan kembali kesenian Sunda yang katanya hampir punah itu.

Sejak memperkenalkan kembali karinding dan celempungan, kini Abah Olot telah mendapatkan beberapa penghargaan dari usahanya membuka kembali jendela kesenian Sunda diantaranya adalah Piagam yang diberikan kepada abah olot dari Bupati Sumedang sebagai karya terbaik penghasil kerajinan bambu pada tahun 2008 dan juga Penghargaan yang didapatkan sebagai pencetak rekor muri penampilan karinding terbanyak di Bandung pada tahun 2009 yang berhasil membuat rekor dengan melibatkan peserta terbanyak untuk pergelaran music karinding yakni 370 orang. Selain itu banyak lagi penghargaan-penghargaan lain yang didapatkan oleh abah olot ini yang tidak bisa disebutkan satu persatu.

Pada mulanya Abah Olot terlebih dahulu mengenalkan kembali karinding, lalu seiring dengan semakin terkenalnya karinding, Abah Olot mulaimengolaborasikannya dengan celempungan. Menurut Abah Olot, celempungan memberi warna lain dalam permainan karinding, sehingga permainan karinding tidak monoton.Abah Olot tidak hanya meneruskan karinding celempungan dari orang tuanya saja, namun juga mengembangkannya. Dengan kreativitas dan inovasinya, kini karinding celempungan bisa dimainkan dengan nada pentatonis dan diatonis, artinya karinding celempungan dapat dikolaborasikan tidak hanya dengan alat musik tradisional saja, tapi bisa dikolaborasikan dengan alat musik moderen. Karinding celempungan tidak hanya bisa digunakan untuk memainkan lagu-lagu berbahasa Sunda, namun juga lagu yang berbahasa Indonesia bahkan sampai lagu yang berbahasa Inggris.Tidak hanya itu, karinding celempungan dapat dikolaborasikan dengan jenis musik underground yang kini banyak digandrungi anak muda.

Dengan tekad yang kuat dan usaha yang tak kenal henti, Abah Olot berharap karinding celempungan dapat tetap lestari. Dan kami, akan terus mendukung semua upaya pelestarian tersebut dengan menangkapnya melalu lensa kamera dan goresan tinta serta menyebarkannya kepada dunia. Ini adalah bukti nyata kepedulian kami pada budaya sendiri, karena menurut kami, peduli pada budaya adalah harga mati.

 

Penulis: Siti Aminah

Editor: Reinatya Ghaida Hardisty

 

Kesenian Topeng Bekasi

Dokbud Litbang :

Inilah Bhineka Tunggal Ika!

Walau hujan mengguyur bandung sejak sore, malam itu karpet pertunjukan tetap digelar di panggung teater terbuka di Taman Budaya Jawa Barat. Setelah peralatan gamelan siap, sinden mulai melantunkan lagu memberikan tanda pertunjukan akan dimulai. Bangku penonton yang masih sepi karena cuaca yang tidak mendukung lambat laun mulai ramai, orang-orang seakan terpanggil dengan nyanyian sinden. Pewarisan Seni Topeng Bekasi pun dimulai.

Kesenian topeng bekasi merupakan hasil akulturasi kebudayaan Bekasi yang mendekati betawi dengan kesenian Jawa Barat. Menurut Kamusd Besar Bahasa Indonesia, akulturasi (akul•tu•ra•si) adalah percampuran dua kebudayaan atau lebih yang saling bertemu dan saling mempengaruhi. Dalam penyajiannya, pada Sabtu (16/3) lalu, budaya bekasi atau betawi terasa kental, terutama saat dua orang pembawa acara (pengganti mc) menggunakan gaya berpantun dengan logat betawi. Namun, saat wawancara dengan pak Nomir (salah satu pemilik sanggar) selesai acara, ia menyanggah bahwa budaya Bekasi adalah betawi. Hasil akulturasi terlihat pada beberapa tarian yang beberapa gerakannya berasal dari Jawa Barat.

Mengapa “pewarisan”? di Taman Budaya ini memang sering digelar pertunjukan dengan tajuk pewarisan. Acara ini dbuat oleh beberapa sanggar kesenian yang baru saja selesai mengajarkan suatu seni tradisional, baik tari, musik, atau lainnya, pada satu generasi penerus di sanggar tersebut. Para penari dan pemusik terlihat masih muda. Hal ini bertujuan agar kesenian tersebut terus terjaga keberadaannya.

Acara dimulai dengan beberapa lagu dari Sinden, pemutaran video proses latihan di sanggar mereka, pembukaan oleh mc bergaya betawi seperti yang telah dijelaskan diatas, dan sambutan dari ketua sanggar dengan sebuah pantun. Tarian pertama yang dihadirkan adalah Tari Topeng Jegot. Tari ini dibawakan oleh dua orang, berpasangan, dengan menggunakan topeng. Setelah itu ada Topeng Gong. Tarian “centil” ini dibawakan oleh 5 orang penari perempuan dengan lagu “Kicir-Kicir”. Walau nama tarian tersebut Topeng Gong, para penari tidak mengenakan properti topeng. Setelah itu ada penampilan tari Kembang Amprok. Tari ini adalah tarian gagah, gerakannya banyak menyerupai gerakan bela diri, tapi tetap dibawakan oleh para penari perempuan juga. Rangkaian puncak adalah drama tari. Dengan pertunjukan bergaya komedi, mereka menghadirkan sebuah cerita sederhana dengan pesan moral yang kaya dan kental budaya. Rangkaian terakhir sekaligus penutupan tidak kalah menarik. Dua orang wanita menyanyi melantukan lagu tradisional.

“Bekasi kan, Jawa Barat juga” itulah ungkapan pak Nomir saat ditanya mengenai kesenian akulturasi ini. Percampuran dua budaya memang dapat menyatukan suatu kesenian yang indah. Itulah mengapa, walaupun Indonesia terdiri dari berbagai suku, persaudaraan tetap harus terjaga. Dengan kerjasama, Indonesia dapat membuat sebuah karya masterpiece yang tidak akan kalah dengan kesenian dari negara manapun.
[RP – div.Litbang]