10 Finalis Pasanggiri Dokumentasi Budaya

Selamat kepada 10 Finalis Pasanggiri Dokumentasi Budaya Warisan Kuliner Jawa Barat 2015 🙂

Untuk data lebih lengkapnya, bisa dilihat di link

http://bit.ly/pengumuman_10finalis

Untuk sekolah yang tercantum pada data finalis diatas, dipersilahkan  mengunduh beberapa file dibawah yang telah dipersiapkan untuk menjadi panduan teknis Final Pasanggiri Dokumentasi Budaya. Berikut Link untuk mengunduh file :

http://bit.ly/ketentuantehnicalmeeting

http://bit.ly/ketentuan_final_WKJB

http://bit.ly/InfoPenginapan

http://bit.ly/Rute_MenujuKampusUnpadJatinangor

 

wpid-img_20150823_184105

Lises Unpad Membedah Pencak Silat

JATINANGOR, (KAPOL).-
Ketua Lingkung Seni Sunda Universitas Padjajaran (Unpad), Riyanti Wikara mengatakan, pencak silat sudah menjadi bagian dari identitas dan warisan budaya bangsa Indonesia.

“Pencak silat, harus tetap lestari serta  dicintai oleh masyarakat. Sehingga,  banyak cara atau metode yang baik agar bisa diterapkan untuk mendorong kemajuan pencak silat,” katanya kepada Kabar Priangan Online (KAPOL), di Jatinangor, Minggu (23/8/2015).

Lises, kata dia, bertekad untuk ikut berperan melestarikan pencak silat.

Harapan tersebut, kata dia, diimplementasikan diantaranya melalui  Seminar Pencak Silat Budaya 2015 yang baru-baru ini digelar di Kota Bandung.

“Diharapkan, melalui apa pun caranya upaya melestarikan pencak silat,  bisa melahirkan harapan baru yang bisa memotivasi serta memberikan semangat baru terhadap perkembangan pencak silat di tanah air,” ucapnya.

Lises, ujar dia menambahkan, ingin berbagi serta memberikan pengetahuan tentang pencak silat yang tentu saja dilihat dari sisi  warna, keterampilan, keindahan etika dan estetika yang berwujud inovasi baru demi berkembangnya khazanah pencak silat. (Azis Abdullah)

sumber : http://kabarpriangan.co.id/lises-unpad-membedah-pencak-silat/

 

 

POSTER UTAMA

Mari berpartisipasi! Lises Unpad dengan bangga mempersembahkan: FESTIVAL PENCAK SILAT BUDAYA 2015


Pertama di Indonesia sebagai event kampus! Belasan perguruan Pencak Silat se-Bandung Raya akan mempertunjukan jurus-jurus dan kaidah silat dalam balutan cerita.
Festival dimeriahkan oleh Pameran Foto Dokumentasi Pasanggiri Pencak Silat Lises Unpad, Sisingaan, Kuda Renggong, Bazaar Kuliner dan Souvenir khas Jawa Barat, dan masih banyak lagi!
Turut mengundang Kang Cecep Arif Rahman (Praktisi Pencak Silat dan Aktor The Raid 2 Berandal)
Penasaran?
Catat agenda kegiatannya!

Seminar “Penca Kuring Aya Dimana, Penca Kuring Kamarana?”
Hari, Tanggal: Sabtu, 22 Agustus 2015
Waktu: 09:00-12:00
Tempat: Bale Rumawat Kampus Unpad Dipati Ukur
Pembicara: Prof. Ganjar Kurnia (Budayawan), Asep Gurwawan (Praktisi Pencak Silat sekaligus Ketua Umum Maspi), Drs. Toto Sucipto (Ketua Balai Pelestarian Nilai Budaya Bandung)

Acara Puncak,
Hari, Tanggal: Sabtu, 29 Agustus 2015
Waktu: 08:00 – 17:30
Tempat: Bale Santika Kampus Unpad Jatinangor

Ajak seluruh keluarga, kerabat, dan sahabatmu untuk menjadi saksi sejarah persilatan Indonesia! GRATIIIIIS!!!
Bersama kami mewujudkan Pencak Silat yang lestari dan dicintai!
Ramaikan, Sukseskan!

Informasi Selengkapnya:
Follow us on Twitter @FPSBLU_2015
Instagram @FPSBLU_2015
Zaidah Nuraini 0896-37-090-252

PRA-EVENT: SEMINAR INTERAKTIF “PENCA KURING AYA DIMANA, PENCA KURING KAMARANA?”

Pra-Event dari Festival Pencak Silat Budaya Lises Unpad 2015 adalah Seminar Interaktif yang bertajuk “Penca Kuring Aya Dimana, Penca Kuring Kamarana?”. Seminar yang bertemakan Peran Aktif Mahasiswa Berbudaya pada Revitalisasi Pencak Silat Tradisi ini mengundang pembicara yang sangat kompeten di bidangnya masing-masing. Latar belakang keilmuan dan sepak terjangnya di kancah budaya sudah tidak bisa dipungkiri lagi. Siapa mereka?

Pembicara#1
Prof. Dr. Ir. Ganjar Kurnia, DEA.

01

Prof. Ganjar (lahir di Bandung, 3 Januari 1956) adalah seorang akademisi dan budayawan asal Bandung Jawa Barat. Ia pernah menjabat sebagai rektor Universitas Padjadjaran  periode 2007 – 2015.

Prof. Ganjar merupakan guru besar sosiologi pertanian di Unpad. Sebelum kembali mengabdi di dunia pendidikan, dirinya sempat menjadi duta kebudayaan Indonesia di Kedutaan Besar Republik Indonesia di Perancis. Selama di Perancis, ia turut berkontribusi dalam mempromosikan kebudayaan Sunda, salah satunya angklung, bekerjasama dengan Saung Angklung Udjo.

Dalam Seminar Interaktif “Penca Kuring Aya Dimana, Penca Kuring Kamarana?”, Prof. Ganjar akan mencoba memaparkan “tugas tambahan” dari seorang mahasiswa yang aktif di unit kreativitas mahasiswa (UKM) Budaya, selanjutnya kita sebut saja mahasiswa berbudaya.

Pembicara#2
Asep Gurwawan – Ketua Umum Masyarakat Pencak Silat Indonesia (Maspi)

02

Pak Asep Gurmawan merupakan praktisi Pencak Silat yang telah melanglangbuana di kancah Nasional bahkan Internasional. Pengalaman dan sepak terjangnya di bidang Pencak Silat sudah tidak ayal lagi.

Kini, Pak Asep (sapaannya) memikul tanggungjawab sebagai Ketua Umum Masyarakat Pencak Silat Indonesia. Amanat ini beliau jalankan demi visinya yaitu Pencak Silat tidak terasing di negeri sendiri. Visi tersebut berubah menjadi slogan Maspi yaitu Pencak Silat Membumi dan Mendunia!

Dalam Seminar Interaktif “Penca Kuring Aya Dimana, Penca Kuring Kamarana?”, Pak Asep akan mencoba menyadarkan kita tentang esensi dari pencak silat itu sendiri.

(Informasi selengkapnya:http://m.inilah.com/news/detail/2131634/asep-gurwawan-pendekar-silat-kelas-dunia).

Pembicara#3

Drs. Toto Sucipto (Ketua Balai Pelestarian Nilai Budaya Bandung)

 03

Dijadikannya sebagai pembicara menjadikan Drs. Toto Sucipto membuka kesempatan kepada seluruh peserta untuk turut berpartisipasi dalam proses pelestarian kebudayaan dan kearifan lokal.

Pasalnya, dalam Seminar Interaktif “Penca Kuring Aya Dimana, Penca Kuring Kamarana?”, Drs. Toto dengan perannya sebagai Ketua dari BPNB Bandung dengan segala kredibilitasnya diharapkan mampu mengedukasi peserta tentang bagaimana caranya menjadikan kearifan lokal menjadi warisan budaya Indonesia bahkan diakui oleh dunia dengan kekuatan hukum yang sah kuat. Sehingga, pengakuan budaya Indonesia oleh negara asing tidak akan terulang kembali.

Berikut ini kami informasikan pula mengenai tempat pelaksanaan Seminar dan Technical Meeting peserta Festival Pencak Silat Budaya Lises Unpad 2015:

BALE RUMAWAT

Universitas Padjadjaran

Alamat: Kampus Unpad Jln. Dipati Ukur No. 35 Bandung

04

Catat tanggalnya:

  1. Seminar Interaktif “Penca Kuring Aya Dimana, Penca Kuring Kamarana?” dengan tema Peran Aktif Mahasiswa Berbudaya Terhadap Revitalisasi Pencak Silat Tradisi dilanjutkan dengan Technical Meeting: 22 Agustus 2015
  2. Festival Pencak Silat Budaya Lises Unpad: Pasanggiri Sendra Pencak Silat Antarperguruan Se-Bandung Raya: 29 Agustus 2015

 

 

Tetap ikuti informasi kegiatan-kegiatan kami di Official Account Twitter @FPSBLU_2015.

Seminar dibuka untuk para praktisi Pencak Silat Jawa Barat, Mahasiswa Berbudaya Se-Jawa Barat, dan Budayawan.

GRATIS untuk 120 seat saja.

Informasi selengkapnya silahkan hubungi Narahubung kami:

Zaidah Nuraini (0896-37-090-252)

ASPEK DASAR PENCAK SILAT SEBAGAI REPRESENTASI PERILAKU MANUSIA

Dulu, Abah berpesan kepada saya, “Janganlah kamu hanya terpaku pada’igel-igelan’ saja, Tetapi harus paham sampai bisa ‘ngigel’. Setelah bisa’ngigel’ selanjutnya kamu harus pandai’ngigelan’ dan diharapkan kemudian hari mampu NGIGELKEUN.”
Abah juga menyampaikan beberapa pesan yang sarat dengan makna, diantaranya:
1. Batur arek urang enggeus (Orang lain baru mulai, kita sudah selesai)
2. Ulah sina nyerieun tapi sina ngartieun (Jangan untuk menyakiti, tapi untuk membuatnya mengerti)
3. Ulah siga indit tapi cicing, kudu sabalikna siga cicing tapi indit (Jangan seperti pergi tapi diam, tapi harus sebaliknya

Dari sana saya menyimpulkan bahwa Pencak Silat lebih dari sekedar bela diri dan olahraga semata. Tapi sarat dengan bimbingan pendidikan rohani serta mental spritual yang berguna bagi pelakunya. Aspek inilah yang sering kali tak kita sadari.

Mengejar prestasi dan penghargaan yang bersifat duniawi terus menjadi ambisi. Hal yang wajar, karena wujudnya yang nampak. Namun justru itulah yang terkadang berpotensi mencelakakan. Lupa akan makna yang sejati, poho titik iinditan, poho kana maksud jeung tujuan nu sabenerna. Jika kondisi ini tidak menjadi perhatian bersama, kekhawatiran para pendahulu kita yang menyatakan bahwa kelak anak cucu kita akan belajar budaya sendiri di negara lain mau tidak mau pasti terjadi. Kita (terutama) pesilat sudah seyogyanya perlu memastikan dan bersumpah untuk mengaplikasikan keempat aspek dasar pencak silat sebagai prinsip dasar berperilaku. Yang mana terdiri atas:

1. Olahraga
Sebagai bentuk rasa syukur kepada Dzat yang menciptakan raga kita secara sempurna. Raga ini perlu dikembangkan, perlu diolah dan diasah kemampuannya. Hal tersebut dapat dengan mudah dibuktikan secara medis tentunya. Perbandingan antara manusia yang suka mengolah tubuhnya dan yang tidak atau jarang.

2. Kanuragan/Bela Diri
Secara epistimologis, kata ‘bela’ adalah kata kerja yang mempunyai lawan kata ‘serang’. Hal itu membuktikan bahwa sudah terjadi kesalahan apabila pesilat dididik dan ditempa dengan maksud menyerang. Anda bisa temui dengan berkeliling berbagai perguruan Pencak Silat di pedalaman Indonesia atau bahasa lainnya adalah perguruan-perguruan silat yang belum terkontaminasi oleh iklim kompetisi seperti sekarang ini. Termasuk saya pribadi, saat melakukan perjalanan itulah saya menemukan sebuah sistem latihan yang hampir seluruh jurus yang diajarkan adalah untuk menjawab pertanyaan, “Bagaimana cara untuk menghindar dan membalikan keadaan saat Anda diserang?”, bukan “Bagaimana cara menyerang langsung lawan atau menyerang lawan terlebih dahulu?”. Sesepuh di sana saat mengajarkan jurus, selalu meminta ada serangan yang masuk ke arahnya, lalu dia memberikan contoh bagaimana menghindar, membela diri, dan kemudian membalikan keadaan. Inilah makna bela diri yang sebenarnya, pelaku berada di posisi bertahan. Bertahan dari hal-hal jahat yang menyerangnya atau bahkan keluarga yang dicintainya. Ditinjau dari sejarah pula, Pencak silat hadir pada saat era penjajahan, yang mana membuktikan bahwa Pencak Silat sebagai Sistem Beladiri yang berfungsi untuk membalikan keadaan.

3. Seni Budaya
Pencak Silat dari sejarah Jawa Barat dan Indonesia tidak terlepas dari adanya iringan musik. Peneliti sekaligus praktisi Pencak Silat Tradisional Kang Gending Raspuzi dalam seminarnya di Universitas Indonesia menyimpulkan bahwa ‘Jurus Penca’ yang diiringi dengan musik adalah atau disebut ‘Ibing Penca’. Dari situ saya sadar bahwa terdapat fungsi lain dari pencak silat itu sendiri selain bela diri dan olahraga, yaitu silaturahmi. Ada seorang guru yang mengatakan kepada saya bahwa sebenarnya warga Jawa Barat sering menjadikan istilah Pencak Silat sebagai suatu kirata. Konon katanya, Pencak Silat itu bermakna yaitu “Pancakaki Silaturahmi”. Sederhananya, Pencak Silat sebagai seni budaya dapat menjadi konten silaturahmi yang bisa dinikmati. Keberagaman aliran dan perspektif dapat dikemas dalam sebuah karya Ibing Penca yang berfungsi sebagai simbol daya kreasi dari berbagai perguruan itu sendiri. Keberagaman inilah yang membuat pencak silat kaya akan kearifan lokal dan sentuhan lingkungan serta sejarahnya. Tak asing apabila setelah tidak ada lagi yang mesti “dibela” (Baca era kekinian), timbul pertanyaan, “Apalagi yang harus dilatihkan agar siswa tidak jenuh dan bosan?”. Salah satu cara terbaiknya adalah dengan berkesenian.

4. Pendidikan Mental Spiritual
Pengalaman di masa lalu memberikan pengaruh terhadap tindak tanduk manusia entah itu pola pikir maupun cara dia dalam mengambil suatu keputusan. Itu adalah teori yang timbul berdasarkan kesepakatan umum, pasti. Hal tersebut bisa digunakan sebagai jawaban terhadap perubahan arah pencak silat di era sekarang ini. Sesepuh di dunia persilatan yang memiliki pengalaman melawan penjajah, pasti memiliki berjuta pengalaman berharga dan menghasilkan berbagai warisan yang tak ternilai yaitu “mental spiritual”. Seusai berlatih, Abah selalu bercerita tentang pengalamannya dengan sorotan mata bangga. Pasalnya, kata-katanya mencerminkan nilai-nilai patriotisme dab nasionalisme yang tinggi. Selain itu, kesusahan yang dulu pernah ia alami membuat dia lebih disiplin, bersabar, dan menyerahkan diri seutuhnya kepada Tuhan-Nya. Memang benar, bahwa Sesepuh di dunia persilatan lebih cenderung berperan sebagai kyai atau dai yang memiliki kemampuan bela diri. Inilah nilai-nilai yang mesti kita sampaikan ke anak didik kita. Asep Sunandar Sunarya (Alm.) pernah berkata bahwa, “Leuheung keneh ari monyet ngagugulung kalapa mah, nu cilakamah lamun kalapa ngagugulung monyet!” Hal ini saya maknai sebagai lebih baik apabila kita terus mentransfer ilmu kita secara perlahan dan terus menerus walaupun memang perlu perjuangan hebat sampai kita melihat hasilnya. Biarkan anak didik kita terus berusaha juga menggali esensi yang sebenarnya walaupun itu sulit dan memakan waktu yang lama. Hal yang wajar sebab kita sedang mengupayakan sebuah hal yang abstrak yakni “mental”. Banyak contoh di sekitar kita yang berubah secara mental menjadi taat beragama dan menjadi pribadi yang baik di usia tuanya. Pencak Silat sama halnya dengan wayang golek dan lainnya, sudah semestinya dijaga kelestariannya agar bisa terus berfungsi sebagai sarana atau wahana transfusi nilai-nilai yang membawa dampak positif bagi agama, bangsa, dan negara.

Keempat aspek dasar Pencak Silat di atas sudah seyogyanya tidak sebatas menjadi simbol dan pajangan saja. Namun, hal itu perlu kita kaji kembali demi memperjelas makna yang sebenarnya.

Disusun oleh:

Aziz Muslim
Lingkung Seni Sunda Universitas Padjadjaran
Wisnuwarman

Teaser Pasanggiri Dokumentasi Budaya ”Warisan Kuliner Jawa Barat” 2015

Hai pemuda-pemudi Jawa Barat!
Masih SMA?
Bangga dan cinta budaya Jawa Barat?
Ayo ikutan!

Lises Unpad akan melaksanakan Lomba Dokumentasi Budaya “Warisan Kuliner Jawa Barat 2015 (WKJB 2015)” dengan Tema:
Makanan Tradisional Jawa Barat

Kalau daerah kamu punya Makanan Tradisional yg khas, langsung aja didokumentasikan dalam bentuk Karya Tulis Ilmiah disertai foto, atau video.
Menangkan kesempatan untuk mendapat Piala Gubernur Jawa Barat, serta hadiah uang tunai Jutaan Rupiah!!!

Kirim karyamu dan menangkan hadiahnya!

Info selengkapnya :
087821275865 (novita)
Web : lises.unpad.ac.id
Twitter : @WKJB2015
@LisesUnpad
Instagram : @WKJB2015
Email : dokbudlises@gmail.com

Graphic3

Dokumentasi Budaya : Upacara Adat Ngertakeun Bumi Lamba

Ngertakeun Bumi Lamba, Wujud Rasa Syukur untuk Alam

Ngertakeun Bumi Lamba adalah sebuah ritual upacara adat dengan cara memberikan sesembahan sebagai wujud rasa terimakasih kepada alam atas pemberian kehidupan. Upacara adat ini menyatukan berbagai suku dan masyarakat adat yang tersebar di seluruh Indonesia untuk berkumpul bersama di Tangkuban Parahu.

Upacara adat Ngertakeun Bumi Lamba bertujuan untuk mengingatkan kita sebagai manusia untuk kembali ke rumah, yaitu tubuh kita masing-masing. Artinya, apa yang kita lihat, apa yang kita injak, dan semua yang kita lakukan oleh tubuh adalah ciptaan yang maha kuasa. Bumi yang diciptakan oleh Sang Pencipta harus benar-benar dijaga dan segala isinya harus diterima sebagai hukum alam. Oleh karena itu, upacara ini juga mengingatkan kita untuk berterimakasih kepada alam, yang sudah memberikan sumber kehidupan.

Penyelenggara upacara adat ini adalah para pelopor Ngertakeun Bumi Lamba yang dijuluki dengan sebutan Kanta Purwadinata. Masyarakat adat yang hadir yaitu berbagai suku adat serta penganut kepercayaan di Indonesia. Dari ujung timur diwakili oleh masyarakat Papua, sedangkan dari ujung Barat diwakili oleh Suku Batak Karo. Hadir pula suku Baduy, Jawa, Sunda, Bali, Dayak Sagandu, Maluku serta bermacam penganut kepercayaan yang ada di Indonesia seperti komunitas Ajisaka dari Jakarta.

graphic2

Upacara adat Ngertakeun Bumi Lamba dilaksanakan ketika matahari berada di sebelah utara bumi, biasanya ini terjadi selama enam bulan sekali. Tahun ini, upacara adat dilaksanakan pada Minggu, 28 Juni 2015, dimulai sekitar pukul 09.00 hingga 13.00 WIB. Ini merupakan kali ke 7 pelaksanaan upacara adat Ngertakeun Bumi Lamba.

Rangkaian upacara adat dimulai di lahan hijau pelataran parkir Jayagiri. Di sana, para peserta upacara adat duduk menghadap gunung sambil berdoa menurut kepercayaannya masing-masing secara bergantian. Mereka memberikan penghormatan kepada gunung yang telah menjadi sumber kehidupan manusia dan menyatukan berbagai perbedaan dengan cinta kasih pada sesama dan alam.

Graphic1

Setelah berdoa di lahan hijau pelataran parkir Jayagiri, para peserta upacara adat melanjutkan upacara dengan berjalan kaki hingga puncak gunung, tepatnya di Kawah Ratu Gunung Tangkuban Parahu. Di sana, para peserta menjalankan ritual “ngalarung” dengan mengembalikan hasil alam kepada alam yang diwakili oleh kawah gunung. Sebelum “ngalarung” dimulai, iringan musik Tarawangsa mengalun dan membiarkan para peserta untuk menari bersama terlebih dahulu. Atmosfir sakral begitu terasa ketika para peserta upacara adat mengakhiri tarian dengan tangisan haru. Setelah musik tarawangsa selesai mengalun, berbagai hasil alam seperti buah buahan, padi, sayuran, dipersembahkan kepada kawah. Tak lupa, sempat ada prosesi melepas burung merpati ke langit. Hal tersebut dilakukan dengan maksud tetap menunjukkan rasa terima kasih kepada alam.***

Reporter: Reinatya Ghaida, Ligia Riski

Editor: Jannisha Rosmana D.

Lises Unpad: Evaluasi Seni dan Budaya Jabar

IMG_0414SUMEDANG, (KP).- Lingkung Seni Sunda (Lises) Unpad kembali bertekad ‘nanjeurkeun ajen
Ki Sunda’ dengan mengajak seluruh warga Jawa Barat, bersama-sama melestarikan budaya Sunda. Tekad tersebut diimplementasikan melalui pagelaran pertama anggota Lises yang baru atau angkatan Purnawarman di Auditorium Bale Santika Unpad, baru-baru ini.
Acara tersebut merupakan ajang evaluasi atau latihan rutin ber­te­ma ‘Paheuyeuk-heuyeuk leungeun’,” kata Ke­tua Pe­lak­sana, Mia Sofia­ningsih Arief yang juga mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya, angkatan 2012 kepada “KP” di Jatinangor.
Menurut Mia, kegiatan ter­sebut merupakan agenda rutin yang digelar Lises Unpad. “Acara ini diharapkan dija­dikan ajang apresiasi serta evaluasi hasil proses latihan rutin semua anggota Lises,” katanya.
Ajang itu, ujar Mia, dilaksakanan para anggota Lises Unpad yang baru dalam ku­run waktu sekitar tiga bulan. “Dalam kesempatan itu, para anggota Lises menampilkan berbagai tarian khas Jawa Barat seperti Tari Merak, Ronggeng Panggung, Tari Topeng Klana, Tari Topeng Kencana Wungu, Tari Topeng Patih, Tari Kartika Puspa serta Tari Makalangan,” tuturnya.
Dalam acara tersebut, kata dia, Lises Unpad mengha­dirkan para juri yang berkompeten dalam bidang kesenian yang juga alumni Lises Unpad.
Tujuannya, kata dia, untuk mengevaluasi penampilan dari para penampilan anggota tersebut.
Para juri di antaranya, kata dia, Agus “ajuz” Kandiawan G, Dana “Ajey” Komara, dan Nenden “inonk” Ratna Dewi.
“Deretan nama-nama juri tersebut merupakan alumni dari STSI atau sekarang ini bernama ISBI dan Alumni Lises Unpad yang kini sukses sebagai seniman pelestari budaya Sunda,” tuturnya.
Menurutnya, acara tersebut menggugah antusias orang-orang di lingkungan Univer­sitas Padjadjaran dan berhasil dihadiri oleh sekitar 300 orang penonton dari berbagai kalangan usia.
Bahkan, kata dia, warga asing pun ikut mengapresiasi pagelaran yang di antaranya Suti asal India.
Ia sengaja datang ke Indonesia untuk belajar kesenian Sunda khususnya dalam bidang menyanyi (sinden).
Bahkan, dirinya menampil­kan kepiawaiannya dalam menyinden yang merupakan hasil latihannya selama tiga bulan dengan diiringi alat mu­sik tradisional Sunda, tara­wangsa.
Mengutip hasil wawancara staff humas Lises, Lili Dyah (FIKOM 2012) dengan Suti, dikatakan bahwa perempuan asal India itu antusias mempelajari kesenian Sunda seperti sinden, alat musik kecapi, angklung, suling, tari jaipong dan lain-lain.
Mia mengaku bangga, dan berharap agar kesenian Sunda khususnya tari-tarian, masih tetap dikenal oleh kalangan muda di tanahnya sendiri dan tak musnah tergerus zaman. (Azis Abdullah)***

sumber : http://www.kabar-priangan.com//news/detail/17976

WKJB edit

PASANGGIRI DOKUMENTASI BUDAYA

Hai pemuda-pemudi Jawa Barat!

Masih SMA?

Bangga dan cinta budaya Jawa Barat?

Ayo ikutan!

Lises Unpad akan melaksanakan

Lomba Dokumentasi Budaya “Warisan Kuliner Jawa Barat 2015 (WKJB 2015)” dengan Tema: Makanan Tradisional Jawa Barat

Kalau daerah kamu punya Makanan Tradisional yang khas, langsung aja didokumentasikan dalam bentuk Karya Tulis Ilmiah disertai foto, atau video.

Menangkan kesempatan untuk mendapat Piala Gubernur Jawa Barat, serta hadiah uang tunai jutaan rupiah!!!

Kirim karyamu dan menangkan hadiahnya!

Untuk Ketentuan dan Formulir dapat diunduh di bawah ini

Ketentuan Lomba

Formulir Pendaftaran

Info selengkapnya : 087821275865 (Novita)

Web : lises.unpad.ac.id

Twitter : @WKJB2015/ @LisesUnpad

Instagram : @WKJB2015

Email : dokbudlises@gmail.com

Nyaluyukeun Titik Inditan

Ku : Irwan Setiawan – Angkawijaya

Asupna hiji anggota anyar ka hiji pakumpulan atawa organisasi mawa motif anu béda-

béda. Lises Unpad atawa organisasi anu dijerona boga udagan kana kasenian jeung kaderisasi

dina organisasi, geus pasti nu daptar jadi anggota anyar leuwih pohara motifna. Aya nu boga

motif hayang bisa tari, bisa karawitan, diajar penelitian dina widang budaya khususna kasenian,

nya kitu ogé diajar organisasina. Pikeun anggota Lises Unpad diajar kasenian Sunda mangrupa

hiji fase anu pasti kudu diliwatan. Tapi fase éta teu nyieun anggotana jadi tuluy ngulibek di

dinya. Meureun mun jadi ahli éta mah bonus tina kadariaanana. Lises Unpad teu ngabentuk

anggotana pikeun jadi seniman atawa parigel dina tari atawa karawitan. Kasenian ngan saukur

jadi media proses pengenalan ogé cukang lantaran pikeun ngenalkeun nilai-nilai budaya Sunda.

Ngaliwatan kasenian saterusna bisa méré kamandang ogé aksi pikeun ngadukung kabudayaan

Indonésia ogé nanjeurkeun budaya Sunda.

Sanggeus asup Lises tuluy jadi bisa nari, karawitan, ogé ngongkolakeun organisasi éta

mah bisa disebut kauntungan anu transaksional. Lian ti éta asupna ka Lises Unpad bisa jadi jalan

pikeun nanjeurkeun budaya Sunda anu kadituna deui mikanyaah kana lemah cai. Saluyu jeung

kekecapan dina Naskah Sanghyang SiksakandaNg Karesian anu unina “Ngretakeun Bumi Lamba

Di Bumi Tan Parék”. Anu hartina “Ngaraharjakeun kahirupan di dunya anu lega”. Ku jalan asup

Lises tuluy diajar materi-materi kasenian jeung budayana ogé neuleuman kana cerlang budayana,

saeutikna boga kasadaran pikeun ngaraharjakeun kahirupan di dunya.

Geus diécéskeun ogé dina Bab III Pasal 7 jeung 8 Anggaran Dasar Lises Unpad yén

maksud tina Organisasi Lingkung Seni Sunda Universitas Padjadjaran, nyaéta berperan sacara

aktif dina ngadukung kabudayaan Indonesia, ogé miboga tujuan pikeun ngagali, ngembangkeun

jeung nanjeurkeun budaya Sunda. Dina kasang tukang Lises midang nu ditulis ku Kang Ganjar

dijelaskeun salian ti Unpad kudu jadi pusat budaya urang sunda, Lises Unpad bisa jadi cukang

lantaran pikeun mahasiswa teu keuna ku krisis hampa budaya. Ku sabab mahasiswa Sunda anu

génétis teu ngajamin jadi mahasiswa Sunda anu sadar kana kabudayana. Lises Unpad salaku unit

kagiatan mahasiswa bisa jadi kawah chandradimuka pikeun ngabentuk atawa saeutikna

ngélingan kana palebah dinya.

Anu kudu disaluyukeun téh nyaéta titik inditan anu dijerona aya motif-motif personal.

Saluyuna titik inditan wadya balad jeung Lisesna sorangan salaku lembaga nyaéta anu geus

ditegeskeun tadi. Ngagali, ngembangkeun jeung nanjeurkeun budaya Sunda pikeun kajembaran

Indonesia kudu jadi titik inditan babarengan. Hal-hal anu sifatna transaksional mah kudu

dikatukangkeun heula sabab éta mah keur soranganeun. Tari, karawitan, panalungtikan ogé

diajar organisasi mah geus pasti kaliwatan ku wadya balad Lises da éta mah geus usaha Dewan

Pangurus pikeun ngokolakeun organisasi anu sipatna ka jero.

Naha kudu disaluyukeun titik inditan? Saluyuna titik inditan bakal nyieun gampang

kasorang usaha-usaha anu dipikahayang. Lian ti éta Lises lembaga anu boga hal-hal anu geus

maneuh. Sapamadegana atawa saluyuna titik inditan wadya balad moal ngarusak ka Lises salaku

Lembaga. Jadi rék bisa atawa teu bisa dina karawitan, tari, jeung lianna ari titik inditanna geus

sapamadegan mah moal jadi pacéngkadan. Anu antukna bakal loba hal-hal lain anu bisa digali

lian ti hal-hal anu transaksional.